Hal ini disampaikan pada laporan kebijakan moneter BI yang dikutip detikFinance dari situs BI, Sabtu (10/1/2009).
Krisis ekonomi global yang masih terus berlangsung berpotensi meningkatkan defisit APBN 2009 dari tingkat defisit yang telah ditetapkan sebelumnya yang sebesar Rp 51,28 triliun atau 1% dari PDB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut BI, dengan beberapa langkah kebijakan khususnya pengurangan dana cadangan risiko fiskal, defisit diprakirakan dapr sedikit ditekan sehingga hanya berkisar 1,5-1,9%.
Peningkatan defisit diprakirakan dibiayai dari kelebihan pembiayaan APBN-P 2008 (SILPA) dan penarikan standby loan secara bilateral maupun multilateral. Defisit diprakirakan menjadi lebih rendah seiring penurunan harga minyak tanah.
Krisis keuangan global diprakirakan akan berimbas ke perekonomian Indonesia pada tahun 2009, pertumbuhan ekonomi diprakirakan mengalami perlambatan dari 6,1% di 2008 menjadi 4-5% di 2009.
Lesunya permintaan dunia dan merosotnya harga-harga komoditas akan ditransmisikan ke perekonomian domestik melalui jalur perdagangan internasional. Pertumbuhan ekspor barang dan jasa diprakirakan akan terpangkas sekitar separo dari pertumbuhan 2008. Di tengah kondisi eksternal yang kurang kondusif tersebut, permintaan domestik diprakirakan akan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi.
(dnl/qom)











































