Bahkan sekarang ini sudah terjadi banyak aduan dari kalangan turis di Bali kepada pihak Hotel dan Restauran yang mengeluhkan susah mencari makanan atau minuman yang mereka biasa temukan di Bali.
"Kalau ini terjadi terus-terusan target 6,5 juta wisman bisa terkoreksi," kata Bendahara Persatuan Hotel dan Restauran Seluruh Indonesia (PHRI) Johnnie Sugiarto dalam acara konferensi pers di Jakarta, Senin (12/1/2009).
Bahkan lebih lanjut lagi, Johnnie mengatakan selama terjadi kelangkaan khususnya untuk minuman beralkohol, muncul fenomena baru yaitu para ekspatriat asing membeli produk-produk langsung ke Singapura (hand carry). Hal tersebut pada akhirnya bisa menggerus devisa setiap minggunya.
Selain mengganggu sektor pariwisata, kelangkaan barang makanan impor karena adanya pengetatan kodel ML/CL akan memicu barang-barang selundupan dan barang palsu. Misalnya kasus-kasus wine palsu yang dioplos berdampak pada kematian.
"Saya khawatir mereka (turis) bisa bilang kepada rekannya di negara asalnya, sulit mendapat makanan dan minuman yang diinginkan di Indonesia," jelasnya.
Padahal pada tahun 2009, tegasnya, pemerintah sedang menggalakan dunia pariwisata dengan memperpanjang visit Indonesia year dari 2008 menjadi 2009.
Sementara itu Direktur Eksekutif PHRI Carla Parengkuan mengakui dampak kelangkaan barang impor berbasis makanan dan minuman sudah mengganggu ketenangan dan kebutuhan para turis yang umumnya sudah tergantung dengan produk impor yang tidak bisa disubtitusikan oleh produk lokal.
"Di Bali sudah banyak turis yang mengeluh karena mereka sulit mencari wine, mereka berpikir lebih baik lari ke Malaysia, Thailand mereka bisa membeli yang mereka suka," ujar Carla.
(hen/qom)










































