Demikian dikemukakan oleh Direktur Utama Pusri Dadang Heru Kadri di kantor Kementerian BUMN, Gedung Garuda, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (13/1/2009).
"IPO belum jadi, karena harga sekarang belum baik. Industri konstruksi sedang dalam posisi tidak terlalu menggembirakan seperti setahun sebelumnya. Alternatifnya lewat pinjaman menggunakan line kreditnya holding sekitar Rp 300 miliar," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, sudah ada beberapa bank BUMN yang berminat untuk mengucurkan pinjaman. Namun sayang, ia enggan membeberkan identitas bank tersebut. "Semuanya berminat, sesama BUMN asal proyeknya menarik," jelasnya.
Ia juga mengatakan, Rekin sendiri yang langsung berhubungan dengan bank-bank tersebut, walaupun line kredit yang dipakai adalah milik Holding Pusri.
Rekin merupakan BUMN yang bergerak dalam bidang usaha infrastruktur. Selain itu perseroan juga menyediakan jasa studi kelayakan proyek, pabrik dan perawatan pabrik.
BUMN itu juga memiliki tujuh anak usaha, yaitu Rekayasa Industri Malaysia Sdn, Bhd, PT Yasa Industri Nusantara, PT Rekayasa Konsultan, Comspain SA, PT Mega Eltra dan PT Puspetindo.
Pusri revisi target
Dadang mengatakan, target pendapatan Pusri untuk tahun 2009 mengalami perbaikan. Dari yang sebelumnya ditargetkan tumbuh sebesar 17 persen, diproyeksikan hanya akan tumbuh 10 persen.
"Kita kan diminta untuk turunkan harga jual oleh pemerintah, jadi kita harus revisi target pertumbuhan," pungkasnya.
(ang/ir)










































