Demikian disampaikan Direktur Perencanaan dan Teknologi PLN Bambang Praptono ketika dihubungi detikFinance, Jumat (16/1/2009).
"Sebagai gambaran, program percepatan tahap kedua totalnya diidentifikasi lebih dari 11.000 MW. Memang paling besar masih coal sisanya ada geothermal, hydro, dan lain-lain," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pembangunan pembangkit dengan renewable energy lebih lama karena harus eksplorasi dulu," tambahnya.
Proyek percepatan pembangkit tahap kedua ini diharapkan rampung pada 2014. Rencanannya, ada sebagian pembangkit yang dioperasikan PLN dan ada yang menjadi proyek listrik swasta (IPP/Independent Power Producer).
Karena kapasitas yang besar, total dana yang dibutuhkan pun semakin besar. Sebagai perhitungan kasar, pembangunan 1 MW pembangkit batu bara membutuhkan dana sekitar US$ 1 juta. Dengan hitungan ini, maka total dana yang dibutuhkan minimal adalah US$ 11 miliar.
"Kebutuhan investasi akan sangat bervariasi karena jenis pembangkitnya juga macam-macam. Tapi hitungan kasarnya, minimum US$ 11 miliar," katanya.
Proyek percepatan pembangkit tahap kedua ini diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pasokan listrik sebanyak 3.000 MW per tahun. Sebagai proyek perdana, PLN membuka pendaftaran pernyataan minat untuk pembangunan PLTU Pemalang yang berkapasitas 2x1.000 MW. Batas pernyataan minat ini akan ditutup hari ini.
Proyek selanjutnya dalam waktu dekat adalah PLTU Muara Tawar (tambahan) dengan kapasitas 1.200 MW.
Sementara untuk proyek-proyek pembangkit yang menggunakan tenaga energi baru dan terbarukan, saat ini sudah menadapat pendanaan dari beberapa institusi luar negeri.
"Seperti Lahendong pendanaannya sudah siap dari ADB, PLTA Asahan dari JICA, dan Pertamina juga siap di Kamojang. Ada juga dari World Bank. Dana-dana itu diharapkan cair awal tahun ini, sehingga pembangkitnya bisa segera beroperasi," katanya.
(lih/ir)











































