BP Migas: Pertamina Sudah Punya Data Natuna Sejak 1996

BP Migas: Pertamina Sudah Punya Data Natuna Sejak 1996

- detikFinance
Jumat, 16 Jan 2009 13:14 WIB
BP Migas: Pertamina Sudah Punya Data Natuna Sejak 1996
Jakarta - PT Pertamina (Persero) mengklaim pihaknya tidak memiliki data yang cukup untuk mengembangkan blok Natuna D Alpha. Namun pemerintah dan BP Migas menyatakan, Pertamina sudah mengantongi data tersebut sejak 1996.

Demikian disampaikan Kepala BP Migas R Priyono dalam keterangan pers di Gedung Departemen ESDM, Jakarta, Jumat (16/1/2009).

"Kalau ini dipermasalahkan maka itu masalah manajemen data di Pertamina," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Begitu juga yang disampaikan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro dalam kesempatan yang sama. Baginya, sangat tidak mungkin Pertamina tidak memiliki data-data Natuna D Alpha.

"Nggak mungkin Pertamina tidak punya, tidak ada alasan Pertamina tidak punya data, karena sumurnya baru ada 4, pemboran terakhir 1996. Jadi mau data apa lagi?" katanya.

Apalagi, menurut Purnomo, data mengenai Natuna D Alpha sebenarnya tidak terlalu banyak karena pengeboran baru dilakukan di 4 sumur.

Tim Khusus Natuna

Selain itu pemerintah juga telah membentuk tim khusus guna membahas term and condition kontrak pengembangan blok Natuna D Alpha.
 
"Tim ini sudah bekerja dan hampir selesai tapi belum melakukan pembicaraan dengan pertamina," jelas Dirjen Migas Evita Legowo.
 
Yang termasuk dalam term and condition tersebut diantaranya adalah mengenai bagi hasil pemerintah dengan kontraktor dan aspek komersialitas dari blok migas tersebut.

Sejumlah bahasan pokok dalam term and condition itu sudah selesai dan sudah diserahkan ke Menteri ESDM. Namun belum bisa dipublikasikan.
 
Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro menambahkan pihaknya hanya tinggal menunggu action dari pertamina."BP migas dan pemerintah sudah siap, berarti hanya tinggal tunggu pertamina,"ungkapnya.
 
Terkait partner yang akan dipilih Pertamina untuk mengembangkan blok Natuna, Purnomo menjelaskan pemerintah menyerahkan sepenuhnya kepada Pertamina.

"Kita tunggu mereka pilih siapa. Tapi yang terpenting negosiasi term of condition harus segera dilakukan," ungkapnya.
 
Namun Purnomo menyarankan Partner yang dipilih Pertamina harus memiliki dana besar dan teknologi tinggi sebab blok Natuna berada di lepas pantai dan memiliki kandungan CO2 yang tinggi.
(epi/lih)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads