Menurut Direktur Eksekutif ReoforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto, Depo Plumpang sesungguhnya tidak layak memenuhi standar sebuah penyimpanan BBM skala besar.
Depo ini berlokasi terlalu dekat dengan pemukiman penduduk dan tidak terlindungi dari ancaman sabotase ataupun teroris. Pertamina sendiri bercita-cita menjadikan Depo Plumpang sebagai depo kelas duniadalam waktu dekat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Pri Agung, jarak ideal antara pagar pembatas tanki dengan pagar terluar seharusnya minimal 300 meter. Selain itu lokasi ini juga harus dilengkapi dengan saluran air yang memadai dan pelindung dari ancaman sabotase ataupun teroris.
"Di Indonesia, aspek security dari sabotase dan teroris memang belum terlalu dipikirkan. Yang menjadi fokus baru sebatas masalah kemanan stok atau pasokan. Dan ini bukan hanya Depo Plumpang, depo-depo lainnya juga tidak lebih baik. Masih rawan," katanya.
Terkait masalah kerugian, menurut Pri Agung mungkin tidaklah besar jika hanya menghitung jumlah premium yang dihabiskan si jago merah. Dengan jumlah premium yang terbakar sebanyak 1.300 KL dan asumsi harga premium Rp 4.000 per liter, maka kerugiannya sekitar Rp 5,2 miliar.
"Kalau hanya menghitung premium, dengan jumlah segitu mungkin tidak banyak. Jumlah segitu mungkin hanya setengah hari kebutuhan Jabodetabek. Tapi ini menjadi pesan bahwa keamanan BBM tidak bisa dianggap remeh," tambahnya.
(lih/qom)











































