Hal ini dikatakan oleh kepala BPS (Badan Pusat Statistik) Rusman Heriawan ketika ditemui di kantor Bappenas, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta, Senin (19/1/2009).
"Potensi deflasi besar, bahkan bisa lebih besar dari deflasi di Desember 2008 yang sebesar 0,04%, karena penurunan harga solar dan premium juga diikuti oleh second round effect-nya yaitu penurunan harga-harga," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua, dampak deflasi di Januari bisa semakin besar karena Januari ini karena intervensi pemerintah dan juga kesadaran para pelaku industri transportasi untuk menurunkan tarif angkutan.
"Dari rekaman BPS ada penurunan tarif angkutan bulan iniย terutama tarif angkutan dalam kota, dan ini memberikan dorongan deflasi," tutur Rusman.
Ketiga, Rusman mengatakan di Januari ini tidak ada gejolak harga bahan pokok, sehingga ini memperkuat dorongan terjadinya deflasi.
"Jadi 3 faktor utama ini mendorong deflasi. Di Januari ada second round effect penurunan harga BBM, di Desember lalu yang tidak terjadi second round effect saja bisa terjadi deflasi. Jadi deflasi di Januari ini cukup besar potensinya," katanya.
Rusman mengatakan di bulan Januari ini, tekanan inflasi kemungkinan besar terjadi hanya pada harga ikan.
"Telah terjadi gejala kenaikkan harga ikan, karena suplai berkurang akibat gangguan cuaca. Ini jadi salah satu penyumbang inflasi di Januari," pungkasnya.
(dnl/qom)











































