Tidak Impor Beras, RI Hemat Devisa US$ 500 Juta

Tidak Impor Beras, RI Hemat Devisa US$ 500 Juta

- detikFinance
Rabu, 21 Jan 2009 11:06 WIB
Tidak Impor Beras, RI Hemat Devisa US$ 500 Juta
Yogyakarta - Sepanjang tahun 2008, Indonesia sama sekali tidak melakukan impor beras sehingga berhasil menghemat devisa hingga US$ 500 juta. Kebutuhan beras Indonesia tercukupi dari dalam negeri.

"Tahun 2008 kita tidak melakukan impor beras, ini berarti kita menghemat devisa setengah miliar dolar AS," kata Dirut Perum Bulog Mustafa Abubakar.

Hal itu diungkapkannya dalm acara seminar nasional bertajuk "Revitalisasi peran dan fungsi Bulog dalam mewujudkan kedaulatan pangan" di Graha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Rabu (21/1/2009).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, impor beras tidak dilakukan bukan karena alasan politis namun benar-benar riil terpenuhinya beras dari dalam negeri. Dengan demikian Indonesia tidak membeli beras dari negara Asia Tenggara lainnya.

"100 persen tidak impor, kita tidak menghidupi petani Thailand dan Vietnam karena tahun lalu tidak beli beras dari sana," tukas Mustafa.

Dia mengatakan pada tahun 2007, Bulog sempat impor beras sebanyak 1,3 juta ton. Namun tahun berikut tidak impor beras lagi karena target produksi beras tahun lalu sebesar 3,2 ton tercapai. Jumlah tersebut sudah mencukupi untuk kebutuhan dalam negeri.

Pada tahun 2008 harga beras dalam negeri juga relatif stabil dengan harga berkisar Rp 4.500-4.600 per kilogram. Harga sebesar itu masih menarik petani untuk menanam padi.

Dia menambahkan sampai saat ini Bulog juga masih dipercaya pemerintah untuk menyalurkan beras untuk rakyat miskin atau raskin. Jumlah penerima raskin sebanyak 19,1 juta rumah tangga miskin atau sekitar 76 juta jiwa.

"Tahun ini mungkin jumlahnya akan berubah, namun jumlah yang diterima masih sebanyak 15 kg/bulan dengan harga Rp 1.600/kg atau mereka mendapat subsidi 1/4 nya dari harga pasar," katanya.

Diakui Mustafa, dibandingkan dengan negara Asia lainnya seperti Malaysia dan Jepang konsumsi beras orang Indonesia paling tinggi. Orang Malaysia per beras 80 kg/tahun, Jepang 50 kg/tahun dan Indonesia 139 kg/tahun.

"Ini artinya kita perlu diversifikasi pangan terutama beras. Kebijakan pangan yang hanya fokus pada beras saja adalah kurang stretegis seperti yang terjadi pada pemerintahan dahulu. Kearifan pangan lokal lainnya seperti jagung, dan sagu perlu digalakkan lagi," pungkas dia. (bgs/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads