"Production cost memang turun. Kalau kita tergantung pada industrinya mungkin hanya 2-3%, karena kita gak bisa menghitung begitu saja, ada biaya bahan baku yang berubah mengikuti kurs," kata Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi.
Hal itu diungkapkan Sofjan disela-sela acara round table discussion Asosiasi Auditro Internal di Hotel Hyatt, Jakarta, Rabu (21/1/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara untuk paket stimulus dari pemerintah, menurut Sofjan itu bisa membantu industri kalau tepat sasaran. "Tapi yang jelas kalau ada stimulus akan membantu supaya tidak PHK," katanya.
Menurut Sofjan, pemerintah harus bisa membuat kriteria khusus dalam memberikan stimulus sektor riil di tahun 2009, jangan sampai ada sektor yang tidak terlalu mendesak diberikan stimulus berlebih.
"Kita mau beritahu pemerintah supaya ada kriteria yang jelas dalam pemberian stimulus sektor riil. Supaya pemerintah bisa tahu sektor-sektor mana yang benar-benar akan menstimulasi ekonomi kita," katanya.
Menurutnya, pembuatan kriteria tersebut mencegah pemberian stimulus kepada sektor yang sebenarnya tidak terlalu mendesak untuk dibantu.
"Jangan sektor yang tidak-tidak. Misalnya untuk perusahaan yang besar-besar seperti mobil, elektronik, atau impor kontennya besar. Harusnya pentingkan yang perkuat domestik market kita," imbuhnya.
Ia mengatakan, sektor usaha yang dirasa sangat membutuhkan stimulus adalah usaha kecil dan menengah. Menurutnya, kekuatan para pengusaha di sektor tersebut saat ini tidaklah besar. Kalau mereka sampai kehilangan pelanggan maka bisa langsung mati begitu saja.
"Misalnya industri padat karya, itu kita minta supaya bisa lebih didekati pemerintah. Industri rakyat kecil itu yang paling berguna menggerakkan ekonomi," ujarnya.
Ia menambahkan, industri lain yang perlu didekati pemerintah antara lain industri tekstil dan garmen. "Mungkin masih ada sektor industri lain, yang paling penting bisa menciptakan market kembali," ujarnya.
(ir/qom)











































