Pertamina Minta Alpha 13,4%, Premium dan Solar Harus Disubsidi

Pertamina Minta Alpha 13,4%, Premium dan Solar Harus Disubsidi

- detikFinance
Rabu, 21 Jan 2009 15:58 WIB
 Pertamina Minta Alpha 13,4%, Premium dan Solar Harus Disubsidi
Jakarta - PT Pertamina mengusulkan besaran alpha hingga 13,4% pada perhitungan harga ICP US$ 45 per barel dalam usulan APBNP 2009. Dengan alpha sebesar itu, maka harga keekonomian premium menjadi Rp 4.785 dan solar Rp 5.628. Artinya pemerintah tetap harus mensubsidi.

Direktur Keuangan Pertamina Frederick Siahaan mengatakan, banyak faktor yang mempengaruhi perhitungan alpha Pertamina seperti harga minyak, kurs dan volume penetapan masing-masing BBM.

"Perhitungan alpha, tergantung parameternya yaitu tergantung harga minyak dan nilai tukar, titik impas volume masing-masing  produk, misalnya nilai tukar untuk Rp 11.000/US$, harga minyak US$ 50 titik impasnya adalah alpha 12,5%, harga minyak US$ 45 sekitar 13,4%," kata Frederick dalam rapat RDP Komis VII, Jakarta (21/1/2009).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rincian perhitungan alpha BBM subsidi dengan asumsi nilai tukar rupiah Rp 11.000/US$ dan harga minyak US$ 45 per barel adalah sebagai berikut.

Untuk premium, dengan rata-rata harga MOPS Rp 3.603, maka alpha yang didapat Pertamina adalah Rp 558 per liter. Untuk minyak tanah, dengan rata-rata harga MOPS Rp 4.459, maka alpha yang didapat adalah Rp 359 per liter. Sedangkan untuk minyak solar, dengan rata-rata harga MOPS Rp 4.330, alpha yang didapat Pertamina adalah Rp 563 per liter.

Sedangkan untuk perhitungan harga MOPS plus alpha untuk premium adalah Rp 4161, minyak tanah Rp 4817, dan solar Rp 4.894. Dengan begitu, maka harga BBM yang diterima masyarakat (mencakup PPN dan PBBKB) untuk jenis premium adalah Rp 4.785, minyak tanah Rp 5.299 dan solar Rp 5.628.

Dengan penjelasan Pertamina ini, artinya harga jual premium dan solar saat ini sebesar Rp 4.500 per liter masih disubsidi pemerintah. Besaran untuk subsidi premium sekitar Rp 285 per liter dan solar sekitar Rp 799 per liter. Sementara minyak tanah masih disubsidi cukup besar, mencapai Rp 3.128 per liter.

Anggota  Komisi VII dari Partai Demokrat Burhanuddin Burmaras mengatakan bahwa seharusnya sekarang ini Pertamina fokus pada pengembangan pembangunan pengolahan minyak mentah harga harga BBM bisa lebih murah.

"Ngapaian kita bicara alpha sebaiknya kita bangun refinary sendiri, kalau kita banyak nggak mungkin kita impor minyak dari luar (Singapura), sehingga harga minyak kita lebih mahal dari AS," katanya.

Sedangkan Effendy MS Simbolon dari Fraksi Golkar mendesak agar Pertamina menjelaskan secara transparan alasan penentuan alpha, meskipun dalam penjelasan selama ini Pertamina selalu beralibi perhitungannya sangat rumit sehingga tidak bisa menjelaskannya secara rinci.

"Jelaskan saja, kita bukannya berpikir negatif kita minta transparansi," serunya

Kepala BPH Migas Tubagus Haryono ditempat yang sama mengatakan bahwa sesuai dengan peraturan pemerintah, alpha maksimum yang bisa diberikan adalah sebesar 15%.

Dijelaskannya beberapa variable yang menentukan alpha adalah biaya distribusi yang meliputi transportasi, biaya penyimpanan, transportasi dalam negeri, dan asuransi. Selain itu, alpha juga memperhitungkan margin yang meliputi wholesaler dan margin retailer.

Dirjen Migas Departemen ESDM Evita Legowo menambahkan bahwa perubahan alpha sangat terkait dengan perkembangan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia crude price (ICP).

Perkembangan ICP hingga tanggal 20 Januari 2009  sebesar US$ 40,14 per barel. Sedangkan rata-rata harga minyak ICP tahun 2004 rata-rata US$ 37,17 per barel, 2005 US$ 51,84 per barel, 2006 US$ 63,86 per barel, 2007 US$ 69,69 per barel dan  tahun 2008 US$ 101,31 per barel.

(hen/lih)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads