Demikian disampaikan Dirut PLN Fahmi Mochtar usai RUPS di Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu (21/1/2009).
"Laba bersih diharapkan Rp 1,7 triliun di 2009, dari tahun lalu yang rugi Rp 5,6 triliun," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini berarti naik 183% atau naik Rp 7,6 triliun," katanya.
Total pendapatan usaha perseroan pada 2009 ditargetkan sebesar Rp 147 triliun atau turun dari 2008 yang sebesar Rp 169 triliun. Penurunan ini disebabkan porsi subsidi listrik yang turun signifikan dari Rp 83,9 triliun di 2008 menjadi Rp 56,3 triliun di 2009.
Selain subsidi, pendapatan PLN juga bersumber dari penjualan listrik ke pelanggannya. Pada 2009, penjualan listrik PLN ditargetkan mencapai Rp 89 triliun.
Penjualan sebanyak ini tercermin dari peningkatan tenaga listrik yang dijual di 2009 sebesar 136.000 GWh atau naik 7% dari tahun 2008 yang sebesar 127.600 GWh.
Sumbangan laba terbesar berasal dari efisiensi yang dilakukan BUMN listrik ini. Biaya pokok penyediaan (BPP) listrik turun dari 2008 yang sebesar Rp 1.318/kwh menjadi Rp 1.022/kwh.
Hal ini membuat biaya bahan bakar PLN pada 2008 yang sebesar Rp 112 triliun turun menjadi Rp 79 triliun pada 2009. Dampak akhirnya, mempengaruhi total biaya usaha PLN yang turun dari Rp 165 triliun pada 2008 menjadi Rp 137 triliun di 2009.
"Jadi hal ini karena kami fokus melakukan efisiensi dan lainnya, termasuk menurunkan losses," kata Fahmi.
Kinerja 2008
Pada RKAP 2008 realisasi laba usaha PLN mencapai Rp 3,7 triliun atau sekitar 600% di atas target yang sebesar Rp 536 miliar. Kesuksesan pencapaian juga terlihat dari EBITDA perseroan yang mencapai Rp 14,4 triliun dari target Rp 11,7 tiliun.
"Pendapatan kita juga melebih target. Target 2008 Rp 79 triliun, tapi tercapai Rp 83,8 triliun," katanya.
Meski pendapatan yang berhasil diraih melebihi target, namun biaya yang dikeluarkan PLN juga melebihi estimasi. Seperti halnya biaya BBM yang pada 2008 direncanakan sebesar Rp 111 triliun, realisasinya mencapai Rp 112 triliun.
"Tumbuhnya penggunaan energi listrik oleh pelanggan melebihi target. Dampaknya adalah pembangkit yang harus dioperasikan juga bertambah. Karena seluruh pembangkit berbahan bakar non BBM sudah dioperasikan, makapertumbuhan itu harus di-cover oleh pembangkit berbahan bakar BBM," katanya.
Namun pada 2009, PLN berharap bisa menekan penggunaan BBM untuk produksi listriknya. Jika pada 2008 penggunaan BBM mencapai 23% dari total energi yang digunakan, maka pada 2009 ditargetkan turun jadi 17,8%.
Target efisiensi sebesar Rp 5 triliun pun dilewati PLN dengan pencapaian Rp 5,27 triliun. Percepatan gasifikasi yang ditargetkan Rp 1 triilun tercapai Rp 1,4 triiun. Selain itu penekanan susut dan efisiensi lainnya yang ditargetkan Rp 0,5 triliun terrealisasi Rp 0,6 triliun.
(lih/qom)











































