Setelah Singapura, kini giliran China dan Korea Selatan yang mengumumkan pertumbuhan ekonominya yang terus menurun. Sementara Jepang mencatat surplus perdagangannya anjlok hingga 80%.
Korsel mencatat pertumbuhan ekonomi hanya 2,5% di tahun 2008, dibandingkan 5% yang dicatatnya pada tahun 2007. Bahkan untuk kuartal IV-2008, perekonomian Korsel minus hingga 3,4% dibandingkan pertumbuhan 3,8% yang dicatat pada kuartal III-2008. Ini adalah angka terburuk sejak kuartal I-1998, saat perekonomian Korsel turun hingga 7,8% secara quarter on quarter (qtoq).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Korsel memperkirakan perekonomiannya di tahun 2009 hanya akan tumbuh 2%. Namun sebagian analis memperkirakan angka tersebut terlalu optimistis.
"Semua data ekonomi yang terbaru menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi Korea secara cepat melemah di tengah resesi global. Kemungkinannya sangat tinggi bahwa perekonomian Korea akan tumbuh lebih buruk ketimbang perkiraan kita," ujar Choie Chun Sin, pejabat senior bank Korsel.
Ekspor Korsel anjlok hingga 11,9% secara qtoq, belanja swasta turun 4,8% dan investasi merosot 16,1%. Pada bulan lalu, angka PHK di Korsel telah mencapai 12.000. Turunnya ekspor itu memberi kontribusi yang besar mengingat Korsel merupakan salah satu negara yang sangat tergantung pada ekspor.
Tak hanya Korsel, pertumbuhan ekonomi China pun mulai melambat. Pada tahun 2008, perekonomian China hanya tumbuh 9%, atau hanya satu digit untuk pertama kalinya sejak 6 tahun terakhir. Pada tahun 2007, China mencatat pertumbuhan ekonomi hingga 13%.
"Krisis finansial internasional semakin dalam dan meluas dengan dampak negatif berlanjut pada perekonomian domestik," ujar Kepala Badan Pusat Statistik China, Ma Jiantang.
Jepang pun tak kuasa menahan dampak krisis finansial. Pada Desember, ekspor Jepang tercatat merosot hingga 35%. Selama Desember, Jepang mencatat defisit perdagangan hingga 320,7 miliar yen, dibandingkan surplus 866,9 miliar yen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Secara total, ekspor turun hingga 3,4% di tahun 2008. Sementara surplus perdagangan Jepang di tahun 2008 tercatat anjlok hingga 80% dibandingkan surplus perdagangan tahun 2007 yang mencapai 2,16 triliun yen. Padahal Jepang dalam sejarah selalu menikmati surplus perdagangan yang besar.
"Pelemahan ekonomi global semakin cepat. Ekspor otomotif ke AS, Eropa dan negara lainnya di dunia turun. Penurunan ekspor juga meluas hingga produk televisi, DVD dan barang elektronik lain," ujar Jiroshi Watanabe, ekonom dari Daiwa Institute of Research.
Pada Rabu kemarin Singapura juga telah mengumumkan tentang kemungkinan perekonomiannya akan memburuk. Singapura memperkirakan pertumbuhan ekonomi hanya sekitar 2-5% di tahun 2009. Selama tahun 2008, perekonomian Singapura diperkirakan hanya tumbuh 1,2% atau turun tajam dibandingkan pertumbuhan ekonomi di tahun 2007 yang sebesar 7,7%.
(qom/ir)











































