Biaya Produksi Apartemen Turun 20%

Biaya Produksi Apartemen Turun 20%

- detikFinance
Kamis, 22 Jan 2009 12:54 WIB
Biaya Produksi Apartemen Turun 20%
Jakarta - Biaya produksi apartemen diperkirakan bakal turun 20% akibat penurunan harga bahan baku dan minyak mentah dunia secara drastis di tahun 2009.

"Cost produksi sektor properti apartemen kemungkinan akan turun sekitar 20%," ujar Direktur PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), Jopy Rusli di kantor pemasaran Kemang Village, Jl P Antasari, Jakarta, Kamis (22/1/2009).

Menurut Jopy, penurunan harga minyak mentah dunia secara drastis dari level US$ 147 per barel tahun 2008 menjadi sekitar US$ 30 per barel di awal tahun 2009, menyebabkan harga-harga bahan baku ikutan anjlok tajam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Penurunan itu mendorong biaya konstruksi bisa turun cukup signifikan sekitar 20%," jelas Jopy.

Oleh karena itu, Jopy menambahkan, bisnis properti masih memiliki peluang tumbuh di tengah krisis ekonomi global ketimbang sektor-sektor lainnya.

"Sektor properti masih memiliki peluang tumbuh, meski tidak sebesar tahun lalu. Tapi dibanding sektor-sektor lainnya, properti merupakan salah satu pilihan investasi di tengah krisis global ini ketimbang sektor-sektor lainnya," papar Jopy.

Jopy mengatakan, properti merupakan salah satu kebutuhan dasar masyarakat, sehingga dampak krisis tidak akan mengkoreksi pertumbuhan secara signifikan.

"Sebenarnya, yang paling besar terkena dampak krisis itukan sektor keuangan. Ke sektor properti dampaknya tidak secara langsung, apalagi properti merupakan salah satu basic needs," ujar Jopy.

Menurut Jopy, hal itu ditunjukkan dengan tidak pernah turunnya harga-harga properti termasuk tanah dan bangunan.

"Tanah dan bangunan itu kan pada dasarnya tidak pernah turun. Harganya selalu naik. Ini membuktikan bahwa sektor properti merupakan salah satu sektor yang dapat bertahan dalam keadaan apapun," jelas Jopy.

Apalagi, Jopy melanjutkan, sektor properti yang digarap LPKR mengincar segmen kelas menengah atas. Jadi dampak krisis tidak akan terlalu mempengaruhi kinerja perseroan.

Kemang Village merupakan salah satu megaproyek teranyar LPKR. Nilai investasinya mencapai US$ 1,1 miliar. Megaproyek yang ditargetkan rampung sekitar tahun 2011 ini digarap di atas lahan seluas 15,5 hektar.

Dalam kesempatan yang sama, perseroan baru saja menunjuk enam agen properti guna menanggani penjualan secondary market Kemang Village.

"Hari ini kami resmi bentuk tim Kemang Vilage Official Realtor, ada 6 agen yang telah kami tunjuk. Nantinya bagi pembeli untuk primary ataupun secondary akan mempunyai kesempatan memperoleh best value dari unit kami," ujar Jopy.

Dengan menunjuk 6 agen tersebut, perseroan berharap dapat meningkatkan nilai properti yang dimiliki konsumennya.

"Mereka dapat memperoleh keuntungan secara maksimum dengan mendapatkan harga jual yang tercipta di pasar," ujar Jopy.

Enam agen tersebut antara lain: Ray White Kebayoran Baru, Century 21 Pertiwi, Thomas Mitra, ABIE Property, Focus Realty dan Orange Tee.


(dro/qom)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads