"Semua direksi sekarang tidak takut diberhentikan. Bisa dicek ke semua direksi," kata Ari Soemarno blak-blakan dalam pertemuan dengan sejumlah pimpinan media massa di Hotel Ritz Carlton, Pacific Place, Jakarta, Jumat (23/1/2009) malam. Hadir juga dalam pertemuan ini Direktur Umum dan SDM Pertamina, Waluyo, dan jajaran Humas Pertamina.
Menurut Ari, jika dirinya diganti saat ini tidaklah masalah. "Saya paling lama menjabat dirut di sini dua tahun lagi, karena setelah itu saya tidak bisa diperpanjang lagi. Bagi saya, diganti saat ini atau dua tahun lagi, sama saja," ujar dia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama memimpin Pertamina sejak tahun 2004, Ari merasa Pertamina saat ini sudah membaik. Pertamina sudah bisa melakukan berbagai efisiensi di berbagai bidang, termasuk dalam pengapalan minyak atau pendistribusian BBM. Pihaknya juga sudah memperbaiki sistem SDM dan penggajian.
Depo Plumpang yang beberapa hari lalu terbakar juga sudah mendapat sentuhan perbaikan Ari Soemarno. Bahkan, di depo ini, otomatisasi sudah dilakukan, terutama dalam pengisian bahan bakar oleh truk-truk tangki. Otomatisasi dilakukan meski mengakibatkan dipangkasnya pekerja dari 500 orang menjadi 100 orang.
"Tahun 2008 keuntungan Pertamina meningkat menjadi Rp 30 triliun. Tahun sebelumnya sekitar Rp 25 triliun. Dari keuntungan Rp 30 triliun itu, Rp 7 triliun di antaranya berasal dari melakukan efisiensi-efisiensi," kata Ari.
Pada kesempatan itu, Ari juga menjelaskan mengenai perkembangan penanganan kasus kebakaran Depo Plumpang. "Kami masih menunggu penyelidikan polisi. Yang pasti, kami ingin mengetahui sebenarnya apa yang menyebabkan kebakaran ini," ujar dia.
Ditemukannya petugas sekuriti Pertamina yang tewas di dekat tangki 24 juga menjadi pertanyaan besar. "Satpam sebenarnya tidak boleh masuk ke situ. Mengapa dia ada di situ. Areal itu hanya untuk orang-orang khusus," ujar dia. Apalagi kabarnya satpam tersebut juga membawa HP ke dalam areal ini.
Selama bekerja di Pertamina, Ari Soemarno mengaku sudah mengalami tiga kali kebakaran. Yang pertama, kebakaran di kilang Bontang pada 1982. Kilang saat itu habis sama sekali. Kedua, kebakaran kilang Cilacap pada 1992 dan ketiga, kebakaran Depo Plumpang baru-baru ini.
(asy/asy)











































