Kabar ini mencuat dari sebuah surat kabar lokal di wilayah kantor pusat Starbucks, Seattle Times, pada edisi Sabtu (24/1/2009).
Sebelumnya Starbuck sebelumnya sudah memecat pegawai, manajer, dan pekerja lapangannya di kantor pusat di Seattle. Namun Starbuck mempertahankan barista, pekerja yang sudah terlatih melayani langsung para pelanggannya. Hingga saat ini, tak kurang dari 600 outlet Starbuck terpaksa ditutup.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami, sebagai perusahaan terbuka, tidak bisa berkomentar mengenai rincian bisnis kami sebelum laporan kami keluar pekan depan. Dan kami tidak akan melakukannya, dalam bentuk apapun, berkomentar atas rumor dan spekulasi," ujarnya seperti dikutip Reuters, Minggu (25/1/2009).
Nasib Starbuck kini memang tidak bisa dikatakan secemerlang dahulu. Para pejabatnya bahkan harus rela melepas bonus 2008 dan tidak mendapat kenaikan gaji pokok selama 2009. (lih/rdf)











































