Hal ini disampaikan Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Pri Agung Rakhmanto ketika dihubungi dengan detikFinance, Minggu (25/1/2009)
Menurut Pri Agung, dengan menggunakan angka nominal, maka besaran alpha akan lebih pasti karena tidak mengikuti fluktuasi harga minyak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski tidak mengikuti harga minyak, namun besaran nominal alpha ini sebaiknya disesuaikan dengan laju inflasi.
Penggunaan perhitungan nominal untuk alpha ini, lanjut Pri Agung, pernah diusulkan digunakan pada tahun 2006. Berdasarkan perhitungan saat itu, besaran apha yang sesuai adalah Rp 400-500 per liter. Dengan kondisi sekarang, maka nominal alpha bisa mencapai Rp 500-700 per liter.
"Waktu tahun 2006 saat model alpha dievaluasi, diusulkan menggunakan nominal dengan kisaran Rp 400-Rp 500 per liter. Kalau sekarang ada di kisaran Rp 500 -Rp 700 per liter tergantung daerah dan jenis BBMnya," ujar Priagung.
Pri Agung menjelaskan dengan menggunakan nominal ini maka akan diketahui berapa harga jual dan berapa keuntungan Pertamina ketika harga minyak dunia naik maupun turun sehingga bisa diaudit dengan mudah.
"Bahkan kalau mau lebih transparan kita kembali menggunakan cost and fee, berapa cost-nya dan berapa fee yang diterima Pertamina. Ini bisa digunakan karena BBM kan masih bersubsidi," ungkapnya. (epi/lih)











































