Demikian disampaikan Dirut PLN Fahmi Mochtar disela-sela RDP Menteri ESDM dengan Komisi VII di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Kamis (29/1/2009).
"Kita ada kuota BBM, selagi kuota masih ada, alphanya 5%. Tapi setelah melebihi kuota, maka alpha 9,5%," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pembelian BBM dengan alpha 9,5% itu terjadi pada Desember 2008 dan Januari 2009. Namun menurut Fahmi, BBM tersebut memang BBM yang dibeli di luar jatah APBN.
"Apa yang disampaikan tadi di Desember, memang kita pakai BBM yang melebihi kuota karena pertumbuhan listrik tinggi, jadi PLN beli langsung dari Pertamina," katanya.
Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi J Purwono membenarkan hal tersebut. Kelebihan BBM di luar kuota APBN menjadi tanggungan PLN dan diberli secara business to business.
"Pertamina tetapkan 5% sesuai kuota tertentu. Untuk yang lebih dari kuota jadi 9,5%. Kelebihan ini business to business antara Pertamina dan PLN," katanya
PLN terpaksa membeli BBM di luar kuota karena pertumbuhan pemakaian listrik tinggi sehingga dibutuhkan lebih banyak BBM untuk menyediakan listrik ke masyarakat.
"Untuk kelebihan kuota ini nanti diteliti BPK mana yang disubsidi mana yang tidak," tambahnya. Gardu Terbakar
Terkait gardu induk di Tasikmalaya yang terbakar, Fahmi menegaskan kejadian ini tidak menyebabkan dampak yang signifikan. Tidak ada pemadaman karena pasokan listrik untuk daerah sekitarnya digantikan dari gardu lain.
"Ini kejadian teknis semata karena short circulate di peralatannya saja. Cuma karena barangnya besar, kesannya besar juga. Suplai diambil alih gardu induk lain yang ada di sekitar situ. Tidak ada pemadaman di konsumen, karena langsung diambilalih," katanya.
(lih/ir)











































