Demikian disampaikan Dirut PLN Fahmi Mochtar di Gedung Depkeu, Jakarta, Jumat (30/1/2009).
"Baru JBIC dan Bank Dunia yang sudah komitmen untuk mendanai, sekitar US$ 3 miliar. Itu sudah sekitar Rp 30 triliun lho, lainnya IPP (listrik swasta). Jadi kita sudah tidak utang lagi," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Fahmi, proyek 10.000 MW ini akan tersebar di 99 lokasi yang kebanyakan di luar Jawa. Proses lelangnya akan dimulai pada akhir semester 1 tahun ini.
Meski sudah cukup untuk proyek 10.000 MW tahap kedua, namun kucuran kredit dari JBIC dan Bank Dunia belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan investasi tahun ini yang mencapai Rp 57 triliun.
"Ya masih kurang. Pendanaan kita tahun ini butuhnya sekitar Rp 57 triliun. Termasuk di dalamnya 10.000 MW dan transmisi. Sebagian kan sudah terpenuhi, tetapi sebagian lagi masih belum," katanya.
Untuk menambal kebutuhan dana yang belum tercukupi, PLN akan mencari dana dari luar perusahaan dengan berbagai cara.
"Kita mengalokasikan hampir Rp 30 triliun dari luar. Bisa obligasi, global bond, soft loan dan macam-macam tahun ini. Tetapi berapa besar ke obligasinya, apakah obligasi dalam atau luar negeri masih harus kita lihat pasar juga," tambahnya.
Wakil Dirut PLN Rudiantara menambahkan, untuk mendanai proyek PLN hingga 2011 saja, dibutuhkan US$ 4,8 miliar dan Rp 19,2 triliun. Hingga saat ini yang sudah terpenuhi adalah US$ 1,9 miliar dan Rp 15,3 triliun. Sehingga sisa kebutuhan yang belum teramankan adalah US$ 2,9 miliar dan Rp 3,9 triliun.
"Dulu memang kebutuhannya US$ 4,5 miliar dan Rp 17,3 triliun. Tapi sekarang tambah lagi, kan sudah tandatangan yang di Adipala (Cilacap). Jadi sekarang totalnya untuk 35 proyek, dulu kan 34 proyek. Total megawatt nya 9.400 MW," jelasnya di kesempatan yang sama. (lih/ir)











































