Jajaran direksi baru ini lebih segar karena rata-rata masih berusia 40-50 tahun. Namun penunjukan manajemen baru ini dinilai tak lepas dari kompromi banyak pihak.
"Tidak bisa dinilai komposisi direksi sekarang ideal atau tidak, tapi ini manajemen hasil kompromi, kelihatan siapa orangnya siapa," kata Direktur Reforminer Institute Pri Agung Rakhmanto ketika dihubungi detikFinance, Kamis (5/2/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menilai penunjukan Karen dilakukan karena pemerintah tidak mau ada resistensi dari internal Pertamina sendiri. Sedangkan penempatan Omar S Anwar sebagai wakil dirut juga dinilai untuk pembenahan manajerial di BUMN minyak itu.
Sementara penunjukkan tiga komisaris yakni Gita Wirjawan (mantan Presdir JP Morgan Indonesia), Homayun Boscha (mantan Presdir Caltex) dan Sonny Sumarsono (direkur Pertamina) sebagai perwakilan bebarapa kelompok di pemerintahan yang memakai orang-orang profesional.
"Jabatan dirut Pertamina memang panas, dalam 10 tahun saja sudah ganti 6 direksi karena banyak sekali kepentingan dari kelompok tertentu," ujar Pri.
Selain melakukan konsolidasi, Pri melihat tugas utama direksi baru saat ini adalah mengamankan distribusi elpiji dan BBM sehingga tidak perlu lagi terdengar ada kelangkaan disana-sini.
Namun Pri pesimistis direksi baru sekarang akan lebih baik dari direksi sebelumnya. Karena masalahnya bukan hanya di Pertamina melainkan kuatnya intervensi pemerintah yang membuat perusahaan minyak ini serba nanggung untuk bergerak di percaturan internasional.
"Jadi kalau pemerintah ingin Pertamina jadi perusahaan kelas dunia, jangan terlalu melakukan intervensi dengan kebijakan-kebijakan yang mengekang Pertamina," katanya.
Dirut Pertamina dalam satu dasawarsa terakhir adalah:
- Soegijanto (1996-1998)
- Martiono Hadianto (1998-2000),
- Baihaki Hakim (2000-2003),
- Ariffi Nawawi (2003-2004),
- Widya Purnama (2004-2006), dan
- Arie H. Soemarno (2006-2009).











































