Hal ini disampaikan oleh Presiden Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI) Yanuar Rizky dalam acara konferensi pers di Jakarta, Kamis (5/2/2009).
"Akibat pelemahan daya beli, dengan kondisi penjualan serta tren respon efisiensi yang diarahkan perusahaan membawa ke angka risiko 9,49% dari pekerja formal diseluruh sektor industri tercancam PHK dengan jumlah 28 juta orang, hasilnya 2,65 juta pekerja," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sektor-sektor tersebut mencakup pertanian, pertambangan, keuangan, jasa-perdagangan-investasi, infrastruktur-transportasi, properti dan lain-lain.
Angka itu berasal dari perhitungan beberapa indikasi mikro keuangan perusahaan mancakup perolehan laba bersih, biaya operasional perusahaan, beban teknologi, marjin laba bersih, harga pokok penjualan dan lain-lain.
Yanuar mencontohkan untuk sektor pertanian berisiko melakukan PHK hanya 0,14% yang disumbang dari beban teknologi yang tidak efisien, operasional alat produksi, biaya operasional mesin yang naik.
Untuk sektor pertambangan mengalami kondisi yang agak parah yaitu mencapai potensi 1,46% yang ditopang oleh margin yang tipis, laba operasional yang tipis, dan faktor biaya lain-lain yang sangat tinggi.
Bahkan sektor keuangan pun tidak luput dari potensi yang mencapai 1%, sehingga harus ada langkah efisiensi dalam operasional dan lain-lain. Dari total perhitungan ke 9 sektor itu dihasilkan angka 9,49% sebagai risiko PHK.
"Jadi ada risiko industri 9% sampai 10%, 2,6 juta yang terancam, ini bukan yang akan tapi potensi saja maka harus di cegah. Jadi untuk tidak mengatakan tidak ada risiko PHK semua sektor nggak mungkin, tidak ada sektor yang steril dari risiko PHK," ucapnya.
(hen/lih)










































