Hal ini dikatakan Menteri Keuangan sekaligus Menko Perekonomian Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis malam (5/2/2009).
"Untuk bunga standby (loan) itu LIBOR+75 bps+25 bps fee, jadi nominalnya 2,76%. Hari ini cari pinjaman dolar dengan tingkat suku bunga sebesar itu tidak akan dapat walaupun ratingnya AAA," tuturnya.
Dikatakannya, pemerintah mendapatkan suku bunga murah apalagi SUN dolar dengan tenor 10 tahun saat ini sudah mencapai 10%.
"Kami harus memanage perekonomian dalam situasi turbulence, jadi kita usahakan APBN jadi bagian dari solusi, bukan masalah. Stand by loan adalah stand by, kita cari pembiayaan yang paling kecil sari sisi suku bunganya," tuturnya.
Stand by loan adalah pinjaman siaga yang disiapkan pemerintah jika pendanaan defisit lewat penerbitan SBN (Surat Berharga Negara) sulit dilakukan di tengah situasi krisis ekonomi global yang terjadi. Pemerintah dikatakan Sri Mulyani sedang melakukan penjajakan dari kreditur multilateral dan bilateral untuk mencari komitmen pinjaman siaga ini.
"Pencairan pinjaman siaga pada prinsipnya hanya akan dilakukan jika kondisi pasar keuangan tidak kondusif yang dapat mengakibatkan SBN yang diterbitkan tidak dapat diserap oleh investor pada harga yang wajar," paparnya.
Pemerintah sendiri mengajukan perubahan APBN 2009 dengan tingkat defisit menjadi 2,5% dari PDB atau Rp 132 triliun. Karena itu akan ada tambahan utang untuk pembiayaan defisit ini.
Pada saat yang sama, Menneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta mengatakan pemerintah sudah mendapatkan komitmen dari kreditur multilateral dan bilateral, namun belum ada persetujuan (approval) dengan nilai kurang lebih US$ 6 miliar.
"Kalau sudah approval tinggal minta persetujuan DPR. Term of condition juga harus dapat izin DPR dulu, itu kan baru komitmen yang US$ 6 miliar itu. Term of condition belum dibicarakan lebih jauh, penggunaanya apakah untuk defisit, belum bisa dibahas lebih jauh," pungkasnya.
(dnl/qom)










































