Stmilus Fiskal Lebih Ampuh Melawan Krisis

Stmilus Fiskal Lebih Ampuh Melawan Krisis

- detikFinance
Jumat, 06 Feb 2009 10:20 WIB
Stmilus Fiskal Lebih Ampuh Melawan Krisis
Jakarta - Bank Indonesia (BI) menilai stimulus fiskal lebih ampuh untuk mendorong perekonomian di tengah krisis global, dibandingkan stimulus moneter.

Karena itu BI berharap paket stimulus bisa diimplementasikan dengan cepat sehingga pertumbuhan ekonomi di 2009 bisa didorong di atas 4%.
 
Hal ini dikatakan oleh Deputi Gubernur Senior BI Miranda S. Goeltom dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis malam (5/2/2009).
 
"Dalam pemahaman teoritis, stimulus fiskal akan memberi dampak yang lebih cepat ke masyarakat daripada stimulus moneter. Hal ini karena kebijakan moneter memiliki lag sebelum dapat memberi dampak pada pasar keuangan," tuturnya.
 
Ditambahkan Miranda, dalam kondisi global yang penuh ketidakpastian seperti saat ini, penurunan suku bunga tidak segera mempercepat penyaluran kredit.
 
"Hasil penelitian BI menunjukkan bahwa penurunan BI Rate baru direspons dalam bentuk penurunan suku bunga dana dan kredit perbankan dalam waktu 2-3 bulan," jelasnya.
 
Karena itu, menurutnya apabila kita menginginkan pertumbuhan ekonomi berada di atas 4%, maka perlu dipertimbangkan dengan cermat jenis kebijakan yang memiliki dampak cepat ke sektor riil.
 
"Lalu mengenai jenis stimulus, kami berpendapat bahwa besaran stimulus tersebut menjadi penting. Dalam pandangan kami, stimulus yang jumlahnya tidak cukup besar akan membuat efetivitas pada potential demand juga tidak besar," katanya.
 
Dikatakan Miranda, pemilihan jenis instrumen dalam stimulus perlu menjadi perhatian. "Kami menyambut baik stimulus fiskal berupa pemotongan pajak yang ditujukan pada kelompok tertentu wajib pajak. Namun seyogyanya kita juga tidak melupakan stimulus bagi sektor-sektor informal, seperti UMKM, serta golongan masyarakat berpendapatan rendah yang tidak kena pajak," paparnya.
 
Dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang melambat secara global, banyak negara mencanangkan paket stimulus fiskal dalam berbagai bentuk khususnya dalam mencegah dampak krisis pada masyarakat miskin.
 
Indonesia sendiri merencanakan besaran stimulus di 2009 adalah sebesar Rp 71,3 triliun (1,4% dari PDB) untuk penghematan pembayaran pajak, subsidi pajak, dan subsidi serta belanja negara kepada dunia usaha dan penciptaan lapangan kerja.
 
Perbandingan data stimulus fiskal di beberapa negara:


  • Australia sebesar US$ 6,8 miliar (1% dari PDB) untuk bantuan kas kepada keluarga, stimulus pada pasar perumahan dan pembangunan properti.
  • Singapura sebesar US$ 13,7 miliar (1% dari PDB) untuk stimulus kepada perusahaan.
  • Thailand sebesar US$ 1,37 miliar (1% dari PDB) untuk penurunan harga BBM, gratis ongkos angkutan bagi warga miskin.
  • Malaysia sebesar US$ 2miliar (1% dari PDB) untuk infrastruktur.
  • Amerika Serikat sebesar US$ 819 miliar (1% dari PDB) untuk infrastruktur dan pemotongan pajak.
  • Jerman sebesar US$ 67 miliar (1% dari PDB) untuk investasi dan pendidikan.
  • Jepang sebesar US$ 437 miliar (1% dari PDB) untuk pemotongan pajak, benefit kepada rumah tangga dan kredit UMK.
  • Inggris sebesar US$ 67 miliar (1% dari PDB) untuk investasi dan pendidikan.
(dnl/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads