Hal ini disampaikan oleh Meneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta di temui di kantornya Jakarta, Jumat (6/2/2009).
"Tetap kita akan lakukan karena kepentingan standby loan itu kan untuk kepentingan darurat, kalau tidak terlalu darurat, kan term of conditioning-nya berbeda dengan pembiayaan biasa yang pasti lebih murah," katanya.
Namun ia menambahkan, pemerintah akan tetap hati-hati karena harus melihat kecenderungan tingkat bunganya, sebab jika menggunakan suku bunga tinggi pemerintah akan rugi.
"Termasuk juga obligasi rupiah harus diterbitkan hati-hati, karena sekarang tingkat suku bunga di beberapa negara zero," katanya.
Ia mencontohkan jika pemerintah melepas bond dengan suku bunga 9% pasti akan direspon positif pasar (marketable), namun sebaliknya bagi pemerintah akan mengalami kerugian.
"Tapi untuk kita kan merugikan, kalau kita pakai angka yang marketable atau angka tinggi tentunya kita akan rugi," terangnya.
Dikatakannya standby loan US$ 6 miliar merupaan komitmen melalui lembaga-lembaga multilateral seperti World Bank dan ADB. Hingga kini masih dibahas oleh pihak DPR, terkait anggaran APBN 2009 nantinya.
"Kalau untuk di-approve kan harus melalui persetujuan DPR, nanti akan dibicarakan dalam perubahan APBN 2009,karena nanti dampaknya akan kepada struktur anggaran kita," katanya.
Ia memastikan dari sisi pembiayaan anggaran APBN 2009 tidak akan ada pengurangan pengeluaran namun dari sisi penerimaan akan terjadi pengurangan pendapatan negara.
(hen/lih)











































