Hal ini dikatakan oleh Anggota Komisi XI DPR Dradjad Wibowo kepada detikFinance, Sabtu (7/2/2009).
"Memang Komisi XI DPR menyangsikan efektivitas stimulus setelah melihat rinciannya. Kesan bahwa stimulus tersebut lebih merupakan kampanye politik daripada sebuah paket ekonomi yang komprehensif sangat kuat," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Memang stimulus sebesar Rp 71,3 triliun ini melebarkan defisit anggaran menjadi 2,5% dari PDB atau Rp 132 triliun dari sebelumnya yang hanya 1% dari PDB.
"Karena realitasnya penjualan SUN sekarang agak berat, sementara biayanya mahal, saya dan teman-teman yakin bahwa akhirnya stand by loan-lah yang akan dipakai. Ini kontras dengan statemen Presiden tidak berutang lagi melalui CGI. Memang tidak ada CGI, tapi ternyata melalui mekanisme standby loan, dengan alasan untuk stimulus," tuturnya.
"Jangan sampai stimulus menjadi kuda troya bagi menguatnya dominasi kreditor terhadap rezim ekonomi Indonesia," tukasnya.
(dnl/dnl)











































