Subsidi BBN yang bertambah ini diusulkan karena kuota BBN bersubsidi pada APBN-P 2009 mengalami kenaikan dibandingkan APBN 2009.
Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Migas Departemen ESDM Evita Legowo dalam pemaparan rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VII Gedung DPR, Senayan di Jakarta, Senin (9/2/2009).
"Usulan kami mengalokasikan tambahan anggaran subsidi untuk bahan bakar nabati, bila harga pokok BBN lebih tinggi dari pada harga pokok bahan bakar minyak (BBM) rata-rata Rp 1.000 per liter," imbuh Evita.
Dikatakannya dana sebesar itu untuk mensubsidi bioetanol sebanyak 206.389 kiloliter dan biodiesel 625.038 kiloliter sehingga total kuota BBN mencapai 831.427 kiloliter.
"Kalau subsidi Rp 1.000 per liter dan kuota 831.427 kiloliter maka alokasi subsidi mencapai Rp 831,427 miliar," katanya.
Evita menjelaskan jumlah volume bioetanol yang disubsidi pemerintah hanya mencakup 1% dari kuota premium bersubsidi dan 5% dari kuota solar bersubsidi.
Dikatakannya subsidi tersebut diperlukan guna menjaga kestabilan pasokan BBN ke dalam negeri. Selama ini harga BBN cenderung lebih tinggi dibandingkan BBM.
Selama ini pelaksana kewajiban pelayanan publik atau public service obligation (PSO) tidak mempunyai dana untuk membeli BBN yang lebih tinggi dari BBM. Bahkan ada kesan produsen tidak mau memproduksi dan menjual BBN ke dalam negeri karena harga tidak kompetitif.
Berdasarkan simulasi harga yang dilakukan Departemen Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) selama bulan November 2008 hingga Januari 2009, nilai subsidi BBN hanya Rp 610,08 per liter.
"Saya berani garansi kalau subsidi BBN tidak sampai Rp 1.000 per liter," tukasnya. (hen/dnl)











































