Demikian disampaikan Dirut PLN Fahmi Mochtar disela-sela kunjungan kerja Presiden SBY ke Kantor Pusat PLN, Jakarta, Senin (9/2/2009).
"Akan terdapat penyesuaian jadwal penyelesaian (10.000 MW) terkait dengan ketersediaan pendaaan. Sisa kebutuhan pendaaan pembangkit, direncanakan dari perbankan domestik," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengalihan sumber pendanaan ini telah mendapat restu dari Presiden SBY. Menurut SBY, pembangunan fisik 10.000 MW selama ini sudah berlajan baik, namun terkendala pendanaan.
"Kalo kita bisa mengatasinya dengan sumber pendanaan DN yang tersedia, itu lebih baik lagi. Tapi pastikan betul tidak menimbulkan hambatan lain," kata SBY.
Tapi sebelum menyerahkan pendanaan ke perbankan nasional, negoisaisi yang intensif dengan Pemerintah RRC harus digelar. Para menteri dan pejabat teknis terkait agar segera berembuk mencarikan solusi demi terpenuhinya kebutuhan listrik dalam negeri.
"Saya belum berpikir mencari sumber dana lain dari luar negeri. Kita tempuh dulu negosiasi, baru mencari sumber dana dalam negeri," kata SBY.
Sebelumnya PLN telah mendapatkan sebagian pendanaan untuk transmisi 10.000 MW dari global bond yang diterbitkan pada 2006 dan 2007. Nilainya masing-masing US$ 1 miliar.
"Sumber pendanaan (transmisi), pertama global bond PLN tahun 2006 dan 2007 masing-masing US$ 1 miliar. Kedua, 85% nilai kontrak EPC dari pinjaman perbankan asing dan domestik," ujarnya.
Dalam proyek 10.000 MW, PLN menargetkan sekitar 1.000 MW transmisi akan mulai operasi komersial pada 2009. Lalu sekitar 7.000 MW lainnya pada 2010 dan sisanya 2.000 MW lagi 2011 atau 2012.
"Ini terdiri atas proyek yang berupa koneksi ke pembangkit dan untuk evakuasi energi dari pembangkit. Sebagian besar sudah terkontrak dan mulai konstruksi," katanya.
Pada periode 2009-2018, PLN memperkirakan kebutuhan listrik sistem Jawa Bali akan tumbuh dari 107,8 Twh pada 2009 menjadi 250,9 Twh pada 2018 atau tumbuh rata2 9,5% per tahun.
Sementara untuk luar Jawa Bali pada periode yang sama meningkat dari 30,9 Twh di 2009 jadi 74,3 Twh pada 2018 atau tumbuh rata2 10,3% per tahun.
(lih/ir)










































