Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) Fazwar Bujang usai acara rapat dengar pendapat (RDP) di komisi XI DPR, Senayan Jakarta, Senin (9/2/2009).
"Utilisasi produksi hanya mencapai 20% sampai 40%," kata Fazwar yang juga Dirut PT Krakatau Steel (persero).
Fazwar mengtakan kondisi industri baja saat ini sangat miris. Ia memperkirakan dengan tingkat utilisasi diangka tersebut yang lambat laun akan menggerogoti pemutusan hubungan kerja (PHK) yang potensinya bisa mencapai 200.000 tenaga kerja.
Saat ini, ia mengharapkan kepada pemerintah untuk segera bertindak cepat sebelum terjadi kondisi yang lebih buruk lagi. Apalagi kini serbuan produk impor kian tinggi menghajar pasar baja dalam negeri.
"Prinsipnya kita mengikuti apa saja yang akan dilakukan pemerintah," jelasnya.
Namun ia menggarisbawahi, yang harus dilakukan pemerintah antara lain melakukan ketentuan tata niaga impor baja, termasuk harmonisasi tarif. Pembuatan inpres pemanfaatan produk dalam negeri dan stimulus fiskal.
"Namun kebijakan itu tegantung kecepatan pemerintah mengambil keputusan, begitu diumumkan langsung diterapkan. Jadi jangan beri kesempatan, terjadinya spekulasi," seru Fazwar.
Sementara itu Direktur Eksekutif IISIA Hidayat Trisputro ditempat yang sama mengatakan, tingkat utilisasi yang rendah setiap produsen baja memang berbeda-beda namun secara rata-rata berada dikisaran 20% sampai 40%.
"Dengan kondisi itu produksi baja bisa mencapai 2 juta ton saja pada tahun ini (2009)," katanya.
Pada tahun 2006 lalu produksi baja dalam negeri sempat mencapai 5,3 juta ton, sedangkan tahun 2007 sempat naik 6,5 juta ton dan tahun 2008 relatif sama berada dikisaran 6 juta ton. (hen/ir)











































