Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 09 Feb 2009 18:46 WIB

Produsen Biofuel Frustasi Harga Jual Masih di Bawah Harga Pasar

- detikFinance
Jakarta - Kalangan produsen bahan bakar nabati (BBN) atau biofuel mengaku frustasi terkait harga jual produksinya yang masih dibawah harga pasar. Terlebih lagi usulan subsidi atau insentif yang diharapkan bisa menempatkan harga BBN pada harga pasar yang diajukan pemerintah dimentahkan kembali oleh komisi VII DPR RI.
 
Hal ini disampaikan oleh Ketua Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan usai acara rapat dengar pendapat komisi VII, di DPR RI, Senayan, Senin (9/2/2009).
 
Paulus mengatakan ia merasa heran kepada pihak-pihak yang keberatan mengenai pembelian produk biofuel pada harga pasar. Padahal saat ini para produsen biofuel harus menjual ke Pertamina masih berdasarkan MOPS harga BBM yang sekarang ini justru berada di bawah harga pasar BBN.
 
Hingga kini ia mengakui dari total 24 perusahaan biofuel didalam negeri, hanya 6 yang memasok biofuel ke Pertamina, namun dari jumlah itu ada yang sudah menghentikan. Sehingga sampai hari ini ada 3 perusahaan yang hanya mensuplai 10% dari suplai maksimal.
 
"Setiap perusahaan kerugiannya berbeda-beda ada yang 1 liter sampai Rp 800 sampai Rp 900 sampai Rp 1200, faktor yang mempengaruhinya harga minyak dan harga MOPS," katanya.
 
Mengenai adanya usulan masalah kebijakan harga BBN menggunakan undang-undang, Paulus meresponnya dengan sinis. Menurutnya pembuatan UU bagi BBN saat ini sudah sangat terlambat.
 
"Kenapa dengan BBN tidak mau membeli harga pasar, inikan produksi dalam negeri tidak mau membeli harga pasar," ujarnya dengan emosi.
 
Sementara itu Anggota DPR dari Fraksi PDIP Efendy MS Simbolon mengkritik mati-matian penerapan subsidi atau insentif bagi BBN. Bahkan ia mempertanyakan bahwa subsidi ini akan ditujukan kepada siapa.
 
"Kok tiba-tiba ada usulan subsidi, itu yang mengajukan itu mafia-mafia," ketusnya.
 
Dalam usulan penetapan harga yang baru pemerintah (Departemen ESDM) mengusulkan bahwa harga pokok BBN untuk biodiesel sama dengan 50% indeks biodiesel Asia Tenggara ditambah 50% indeks biodiesel domestik (IHBD). Sedangkan untuk harga pokok bioethanol sama dengan 50% bioethanol Asia Tenggara ditambah 50% indeks bioethanol domestik (IHED).

(hen/dnl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com