Demikian disampaikan Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Achamd Faisal disela-sela rapat dengar pendapat di Komisi VII MPR/DPR, Jakarta, Selasa (10/2/2009).
"Tadinya kita mau ekspor 400.000 barel dari kilang Dumai, tapi pasarnya lagi susah sekarang. Kita tahan dulu supaya nggak ekspor, karena nanti merusak pasar," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya Pertamina berencana mengekspor 400.000 barel solar karena stok yang berlimpah. Stok yang menumpuk ini membuat tanki Pertamina tak bisa lagi menerima produksi solar dari kilang. Buntutnya, Pertamina harus menurunkan kapasitas produksi kilang agar stok solar bisa tertampung.
Lalu akan dikemanakan stok solar yang berlimpah itu jika ekspor dibatalkan? Menurut Faisal, sebisa mungkin stok solar itu dihabiskan di dalam negeri.
"Kita coba, kalau bisa dihabiskan dalam negeri ya kita habiskan," katanya.
Karena stok yang masih banyak itu, Pertamina kembali menghentikan impor solar pada bulan Februari 2009. Sementara untuk Maret 2009, Pertamina masih akan melihat situasi dulu.
"Februari kita tidak ada impor solar. Maret kita lihat kalau stok turun, kita impor," katanya.
Stok solar Pertamina saat ini mencapai 38 hari dengan volume per hari 60.000 KL. Sementara stok minyak tanah mencapai 40 hari dengan volume per hari 23.000 KL. Stok premium masih aman hingga 14 hari ke depan.
(lih/lih)











































