Hal ini dikatakan oleh Ketua Forum Stabilitas Sektor Keuangan Raden Pardede dalam acara Seminar Nasional Mempercepat Pembangunan Infrastruktur Di Era Krisis Keuangan Global, di Hotel Nikko, Jakarta, Selasa (10/2/2009).
"Saya perkirakan akan sulit mencari pembiayaan infrastruktur dari perbankan luar negeri atau dari pinjaman luar negeri untuk 2 tahun ke depan karena situasi krisis yang terjadi. Satu-satunya harapan hanyalah dari perbankan dalam negeri," tuturnya.
Raden mengatakan, situasi krisis yang terjadi membuat perbankan baik dalam maupun luar negeri lebih berhati-hati dalam memberikan pembiayaan.
"Ekonomi dunia saat ini sedang resesi atau bahkan depresi. Jadi ada perlambatan ekonomi, dan baru saat ini dampak krisis merata di seluruh dunia," ujarnya.
"Saya pernah berbincang dengan beberapa ahli ekonomi dunia, dan mereka mengatakan saat ini ekonomi dunia sedang dark, dan ke depan jalannya akan long and winding road. Jadi krisis ini tidak sebentar," paparnya.
Menurut Raden di tengah situasi saat ini, kebijakan moneter kurang efektif untuk menjadi stimulus. "Terlihat penurunan suku bunga sudah tidak efektif lagi untuk mendorong kredit, di Indonesia pun seperti itu, bahkan di Amerika yang suku bunganya mendekati 0% belum bisa mendorong kredit," katanya.
Jadi ditambahkan Raden, stimulus fiskal menjadi alat yang efektif untuk merangsang perekonomian saat ini.
"Namun jangan harap dengan stimulus persoalan jadi selesai. Dana pemerintah kita terbatas sehingga dampaknya juga terbatas," ujarnya.
Raden mengatakan sebenarnya program stimulus yang paling efektif adalah lewat PNPM dan BLT. "Makanya saya bertanya-tanya kenapa PNPM dan BLT tidak didukung DPR, padahal ini yang paling cepat dalam short term menciptakan lapangan pekerjaan baru," tukasnya.
(dnl/ir)










































