Demikian disampaikan Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Achmad Faisal usai rapat dengar pendapat dengan komisi VII DPR, di gedung DPR, Jakarta, Rabu (11/2/2009).
"Dengan marjin yang di setiap per wilayah itu, pertamina bisa
memenuhi," ungkap Ahmad.
Menurut Faisal, dengan besaran alpha yang berbeda di setiap wilayah, maka biaya distribusi BBM yang diperoleh Pertamina lebih wajar. Pertamina pun bica lebih lancar menyalurkan BBM karena tidak terhambat masalah marjin.
"Kami hanya ingin dapat marjin sehingga dapat beroperasi, itu saja sih. Kita kemarin sudah sepakat dengan Pemerintah," ujar Faisal.
Namun jika alpha BBM bersubsidi tetap menggunakan presentase, maka Pertamina akan mengalami kerugian. Hal ini karena saat harga minyak turun, maka alpha yang didapat Pertamina pun lebih kecil. Padahal sejumlah biaya distribusi umumnya merupakan biaya tetap (fixed cost).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain masalah alpha, kekosongan pasokan BBM bersubsidi juga bisa terjadi karena kuota yang ditetapkan pemerintah kepada Pertamina terbatas.
"Tetapi masalahnya kadang-kadang kosong di WDN karena masalah kuota, distribusinya kan sesuai kuota yang ditetapkankan. Tetapi kalau daerah-daerah tertentu sebut saja yang konsumsi minyak tanahnya naik, maka dia sudah melebihi dari kuota," katanya
(epi/lih)











































