Hal ini disampaikan anggota Panitia angket BBM Drajad Wibowo dalam rapat panitia angket dengan mantan Dirut Pertamina ARi H Soemarno.
"Dengan harga minyak sekarang, harga keekonomian premium Rp 3.900 per liter kalau dijual dengan harga Rp 4.500 per liter maka ada keuntungan Rp 600," ujar drajad.
Dengan adanya keuntungan tersebut, Drajad menilai pemerintah dinilai melanggar Undang-Undang. Jika seharusnya pemerintah mensubsidi rakyat, kini justru rakyat yang mensubsidi pemerintah.
"Pemerintah mendapat keuntungan dari penjualan BBM bersubsidi, bukannya pemerintah subsidi rakyat tapi pemerintah yang disubsidi rakyat," pungkas anggota komisi XI DPR ini.
Drajad menduga keuntungan dari penjualan premium bersubdisi tersebut diambil oleh Departemen Keuangan selaku bendahara negara.
"Keuntungan diduga diambil oleh Departemen Keuangan," paparnya.
Sementara itu, anggota panitia angket lainnya dari PPP, Afriyadi Asda mengusulkan agar panitia angket memanggil Presiden SBY untuk mengklarifikasi hal ini.
"Saya himbau dan usulkan kepada panitia angket untuk mengklarifikasi kepada Presiden SBY. Karena di beberapa media, SBY merasa sangat berjasa karena menurunkan harga BBM padahal kenyataannya pemerintah malah memperoleh keuntungan," tandasnya.
Sebelumnya, Dirjen Migas Evita Legowo mengaku dalam penjualan BBM bersubsidi jenis premium pada bulan desember, pemerintah mendapatkan keuntungan sebesar Rp 1,2 Triliun.
Untuk bulan Januari, Dirjen Migas Evita Legowo mengaku pemerintah masih memperoleh keuntungan dari penjualan BBM bersubsidi terutama premium meski jumlahnya lebih kecil.
"Untuk yang bulan ini belum dihitung, tapi ada sedikit keuntungan dari premium," ujar Evita kepada wartawan di Gedung ESDM, Jalan Medan Merdeka, Jakarta, Selasa (3/2/2009).
Namun saat ditanya besarannya, Evita masih belum bisa menyebutkan angka. Namun jika dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh pemerintah pada bulan Desember Rp 1,2 triliun, angka keuntungan yang diperoleh bulan Januari diperkirakan menurun.
"Angkanya turun karena harga juga turun, tapi yang jelas tidak sampai triliunan. Saya tidak hafal tapi yang jelas lebih rendah," ungkapnya. (epi/lih)











































