Harga Minyak Dekati Titik Terendah dalam 5 Tahun

Harga Minyak Dekati Titik Terendah dalam 5 Tahun

- detikFinance
Jumat, 13 Feb 2009 06:55 WIB
Harga Minyak Dekati Titik Terendah dalam 5 Tahun
New York - Harga minyak mentah dunia terus merosot dan mendekati titik terendah dalam 5 tahun terakhir. Salah satu pemicunya adalah tingginya cadangan minyak mentah di AS.

Pada Kamis (12/2/2009), kontrak berjangka utama New York untuk minyak jenis light sweet pengiriman Maret merosot hingga 1,96 dolar ke level US$ 33,98. Kontrak ini mendekati titik terendah dalam 5 tahun terakhir di US$ 32,20 per barel.

Namun di London, minyak jenis Brent North Sea tercatat naik 37 sen ke US$ 44,65 per barel.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jika minyak light mendapat tekanan karena tingginya cadangan AS, minyak Brent justru mendapatkan support dari kabar yang menyebutkan bahwa Shell kemungkinan akan menghadapi masalah pemenuhan kewajiban karena adanya permasalahan di Nigeria.

Perbedaan harga yang semakin lebar mencapai 11 dolar antara harga minyak light sweet di New York dan Brent di London ini merupakan sebuah langkah yang disebut analis sebagai perdagangan spekulatif disamping sentimen tingginya cadangan minyak AS.

"Kita terus memiliki cadangan dalam jumlah yang besar di AS, dua kali lipat dari perkiraan," ujar Bart Melek, analis dari BMO Capital Markets, seperti dikutip dari AFP, Jumat (13/2/2009).

Departemen Energi AS melaporkan bahwa cadangan minyak mentah AS melonjak menjadi 4,7 juta barel pada pekan lalu. Padahal ekspektasi analis hanya 3 juta barel.

Kabar lainnya yang menekan harga minyak adalah laporan dari International Energy Agency yang memangkas proyeksi permintaan minyak dunia. IEA memperkirakan permintaan minyak pada tahun 2009 rata-rata mencapai 84,7 juta barel per hari, atau lebih rendah 570.000 barel dari proyeksi semula yang dirilis Januari. Pada tingkat permintaan tersebut berarti lebih rendah 1,1% ketimbang permintaan di tahun 2008.

"Kita terus melihat penurunan dari sisi permintaan dan prospeknya tidak akan membaik dengan cepat. Ini menjadi resesi terburuk sejak 60 tahun terakhir," tambah Melek.


(qom/qom)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads