Peritel Asing Berebut Masuk Indonesia

Peritel Asing Berebut Masuk Indonesia

- detikFinance
Jumat, 13 Feb 2009 09:12 WIB
Peritel Asing Berebut Masuk Indonesia
Jakarta - Penetrasi ritel asing ke pasar dalam negeri makin tak terbendung. Setidaknya ada 4 peritel asing yang mencoba menjajaki pasar ritel Indonesia seperti Wallmart, Central, Casino dan Tesco.

Tak hanya peritel asing yang baru, peritel asing yang sudah mapan di dalam negeri seperti Carrefour pun makin kuat mencengkram kukunya mengusai pasar.
 
Menurut pengamat ritel Hidayat, kekuatan peritel-peritel asing ini bukan sesuatu yang aneh. Jika menengok negara asal Carrefour, misalnya, kebijakan Perancis sangat ketat terhadap pengembangan ritel.  

Perancis memiliki kebijakan mendorong pengembangan ekonomi dengan memberikan suku bungan yang rendah ke sektor prioritas seperti manufaktur. Namun kebijakan yang diberikan untuk sektor ritel justru kebalikannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal inilah yang membuat ritel seperti Carrefour mencoba mengembangkan strategi bertahan dengan mengambil marjin tipis namun mengejar perputaran atau penjualan barang yang tinggi.
 
Sehingga tidak mengherankan, ketika mereka ekspansi ke luar negeri termasuk Indonesia yang bunganya lebih rendah, maka strategi ini sangat efektif untuk merajai atau memenangkan persaingan di ritel domestik.
 
"Carrefour masuk ke Indonesia yang bunganya rendah, perputarannya tinggi. Maka tak heran bisa merajai," kata Hidayat dalam acara konferensi pers di Jakarta, Kamis malam (12/2/2009).
 
Ketua Umum Aprindo Benjamin Mailool di tempat yang sama mengatakan banyak faktor yang menjadi penentu posisi Carrefour memimpin pasar ritel di Indonesia dalam beberapa tahun kedepan. Diantaranya dari sisi penjualan dan pengembangan atau pertumbuhan toko melalui ekspansi grafis. Hal ini katanya sangat mungkin bisa terealisasi dalam kurun waktu hitungan tahun ke depan.

"Apalagi strateginya akusisi dan internal growth," jelas Benjamin.
 
Benjamin mengatakan fenomena ritel asing melirik Indonesia bukanlah suatu yang mengherankan karena Indonesia menjadi potensi pasar yang empuk karena ditopang oleh penduduk 240 juta orang lebih dan aturan yang membolehkan penetrasi ritel asing.
 
"Saya tidak terlalu kaget kalau Wallmart, Casino, Tesco Central Thailand mengincar Indonesia, Indonesia ini menjadi radar mereka," katanya.
 
Sementara itu, Hidayat menambahkan secara umum, bahwa ada fenomena yang menarik dalam perkembangan ritel antara negara yang liberal dalam arti membebaskan ritel asing masuk seperti Indonesia dengan negara-negara yang memproteksi pasar ritelnya bahkan menutup rapat-rapat untuk ritel asing seperti India.
 
Ia berpendapat bahwa umumnya negara yang liberal dengan ritel asing justru mengalami pertumbuhan ritel yang lebih rendah dari negara yang menutup diri ataupun membatasi ruang gerak ritel asing.
 
Misalnya negara seperti India yang melarang ritel asing masuk, justru prospek pertumbuhan ritel selalu berada diatas produk dometik bruto (PDB) termasuk China yang selalu tumbuh 10%.
 
"China hanya membolehkan ritel asing masuk di 12 kota di pantai yang boleh tidak boleh ke darat, karena mereka menganut dua sistem ekonomi yaitu liberal di wilayah perkotaan, sosialis di pedesaan atau wilayah pedalaman," jelas Hidayat.
 
Sedangkan negara-negara yang bebas memperbolehkan ritel asing masuk seperti Filipina, Indonesia dan Thailand, pertumbuhan ritelnya mengkuti pertumbuhan ekonomi yang justru selalu berada diangka dibawah 10% Misalnya Indonesia pada tahun 2008 pertumbuhan ekonominya 6% lebih maka ritelnya pun tumbuh disekitar itu bahkan tahun ini hanya diperkirakan 4% saja.
 
Bahkan Indonesia menempati tempat terendah dari 8 negara Asia Timur dan Selatan dalam hal penjualan meter persegi. Sedangkan yang paling tinggi adalah Singapura dan Korea.
 
"Atuaran main, itu mekanisme pasar, yang penting jangan diatur," seru Hidayat.

(hen/lih)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads