Seperti dilansir AFP, pada perdagangan di New York, minyak jenis light sweet untuk pengiriman Maret berada di kisara US$ 34,54 per barel. Sementara minyak jenis brent untuk pengiriman April mencapai US$ 45,97 per barel.
Menurut Direktur Eksekutif ReforMiner Pri Agung Rakhmanto, harga minyak jenis light sweet sedang turun karena stok di AS masih tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia juga menambahkan, harga minyak light sweet menurun karena jenisini paling banyak dipakasi di AS yang sekarang permintaannya sedang drop karena krisis.Sementara di lain pihak, harga minyak jenis brent mengalami kenaikanΒ karena permintaannya yang sedang tinggi.
"Kalau pasar begini, memang tidak bisa diprediksi. Memang maunya pasar seperti itu, lebih berminat ke brent jadi harganya lebih tinggi," tambahnya.
Lalu apa dampak fenomena ini terhadap Indonesia?
Menurut Pri Agung, harga minyak light sweet dan brent sebenarnya tidak berkaitan langsung dengan Indonesia Crude Price (ICP).
"ICP kan rata-rata harga minyak mentah Indonesia sendiri. Tapi kalaupun harus menyebut yang keterkaitannya lebih dekat dengan ICP, light sweet jawabannya. Karena crude kita juga termasuk rendah kadar sulfurnya. Ketika harga light sweet rendah, maka itu cenderung menarik rata-rata ICP ke bawah juga," katanya.
(lih/qom)











































