Menurut Erizal, dari informasi yang diberikan FAO ini menunjukkan bahwa dibandingkan dengan bulan Desember 2008, harga beras dunia bulan Januari 2009 mulai mengalami kenaikan, walaupun kenaikannya relatif kecil.
Hal ini tercermin dengan naiknya indeks harga beras dari 226 pada Desember 2008 menjadi 231 untuk Januari 2009, yang berarti dalam kurun waktu satu bulan ini rata-rata terjadi kenaikan sekitar 2%.
Â
Kenaikan ini terjadi untuk semua jenis beras kecuali beras US Long Grain 2,4% dan Vietnam 5% yang justru mengalami penurunan masing-masing sekitar 8,5% dan 1,5%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenaikan tertinggi dialami oleh beras Vietnam 25% dan beras Thai Parboiled 100%, yang kenaikannya mencapai sekitar 11 %, kemudian diikuti oleh beras Thai A Super (naik 7,1%), Thai Fragrant 100% (naik 6,8%), Thai White 100% B Second grade (naik 5%), dan kenaikan yang terendah dialami beras Pakistan 25% dan Thai 25% yang kenaikannya sekitar 3,5 % lebih.
Dari data ini bisa dicermati bahwa kenaikan harga terjadi khususnya untuk beras dengan kualitas relatif rendah. Sementara untuk beras kualitas tinggi harganya relatif stabil dan bahkan cenderung mengalami penurunan sebagaimana terlihat pada harga beras Basmati Pakistan dan US California.
"Dengan pengecualian yakni untuk beras Thai Fragrant 100% yang justru mengalami kenaikan," terang Erizal.
Â
Lebih lanjut Erizal mengingatkan bahwa adanya kecenderungan peningkatan harga beras, khususnya yang berkualitas relatif rendah yang mendominasi permintaan pasar dunia, hendaknya selalu dicermati oleh Indonesia dalam hubungannya dengan kebijakan ketahanan pangan dalam negeri dan swasembada beras.
"Pasalnya, beras kategori ini paling banyak diserap konsumen Indonesia," tandas Erizal. (es/es)











































