"Kalau harga seperti saat ini, ICP US$ 44,3 per barel dengan kurs Rp 11.800, kalau digunakan kondisi hari ini pun harga Rp 4500 dibawah harga keekonomian, apalagi solar," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam konferensi persnya di Kantor Ditjen Pajak, jakarta, Minggu (15/2/2009).
Sri Mulyani mengatakan, krisis ekonomi yang saat ini tengah berlangsung menyebabkan pemerintah tidak bisa mengubah harga BBM, sehingga diputuskan tetap sama untuk menjaga kepastian dan stabilitas perekonomuan nasional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sri mulyani menjelaskan, pertimbangan lainnya adalah kondisi harga minyak dunia mulai pertengahan januari sekitar US$ 33 per barel kemudian meningkat menjadi US$ 41 per barel dan rata-rata Februari sampai tanggal 13 Februari 2009 mencapai US$ 44,3 per barel. Sedangkan kurs mengalami fluktuasi antara Rp 11.000/US$ -Rp 12.000/US$.
"Harga BBM di Februari tetap bukan karena pemerintah mau cari untung tapi dalam konteks menjaga perekonomian nasional, ketidakpastian global, serta untuk mengantisipasi ketidakpastian yang tinggi dari harga minyak dunia," ujarnya.
Ia menegaskan, tetapnya harga BBM ini ditujukan untuk menjaga daya beli masyarakat dan para pelaku ekonomi sehingga pergerakan sektor riil dan kemampuan masyarakat sesuai dengan tingkat pendapatan.
"Harga ini akan dijaga sestabil mungkin selama mungkin, meskipun tahun ini akan ada Pemilu," ujar Sri Mulyani.
Pada kesempatan yang sama, Sri Mulyani menegaskan pemerintah tidak akan memperoleh surplus dari penjualan bbm di bulan Februari. "Ya februari ini kemungkinan tidak surplus," ungkapnya.
(epi/dro)











































