Hal ini dikatakan oleh Presiden ADB Haruhiko Kuroda dalam jumpa pers bersama Menteri Keuangan sekaligus Menko Perekonomian Sri Mulyani di Graha Sawala, Kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (16/2/2009).
"ADB terakhir menambah modal pada Mei 1994. ADB meminta para shareholder untuk menambah modal, menjadi 200%," ujarnya.
Haruhiko mengatakan dengan kenaikan 200% ini, kenaikan setoran di masing-masing anggota ADB dalam bentuk cash atau tunai hanya sekitar 4% saja.
"Dengan kenaikan itu, ADB bisa menyediakan bantuan bagi negara-negara berkembang. Kami bisa lebih responsif untuk memenuhi kebutuhan finansial, baik jangka pendek maupun jangka panjang," katanya.
Sementara itu pada saat yang sama, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu mengatakan kenaikan modal 200% tersebut tidak semuanya berbentuk tunai.
"Ada mereka (ADB) cari modal sendiri tapi itu persetujuannya untuk tambah (modal). Dia kan juga bisa ambil dari pasar dan tempat lain, tapi yang pick up capital cash itu berapa, 4 %. RI itu kan porsinya 5% (porsi kepemilikan) bila dibandingkan 4% kan tidak signifikan itu kan tidak setahun," tuturnya.
Anggito mengatakan dengan komitmen penambahan modal ADB dari para anggota, maka ADB bisa menambah jumlah pinjaman sampai US$ 13 miliar. "Untuk memberikan semacam pinjaman siaga seperti itu," imbuhnya.
Dengan penambahan modal, diharapkan ADB mempunyai ruang untuk mencapai target strategi ADB 2020, yaitu kawasan Asia yang bebas dari kemiskinan pada 2020, dan mampu membiayai stimulus fiskal oleh negara-negara anggota dari dampak krisis keuangan global.
(dnl/qom)











































