Hal ini dikatakan oleh Kepala BPS Rusman Heriawan dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta, Senin (16/2/2009).
"Dari kuartal I-2007 pertama kali kita mencapai 5,2%. Sebenarnya kita lagi bagus-bagusnya, terus Amerika Serikat bikin dosa, akhirnya kita turun lagi. Sekarang tidak ada satu negara pun kecuali India, China dan Indonesia yang pertumbuhan ekonominya diperkirakan masih positif 2009," tuturnya.
Rusman mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2008 masih sebesar 6,1% meskipun pada kuartal IV-2008 ada perlambatan menjadi 5,2%.
"Sayang memang karena kita 3 kuartal pertama di 2008 terus-menerus di atas 6%, di kuartal IV-2008 melambat karena ada krisis global. Kalau tidak ekonomi kita akan lari kencang, namun tiba-tiba kena serangan krisis ekonomi. Jadi sudah dalam track bagus lalu kena krisis ekonomi," paparnya.
Rusman menjelaskan perekonomian Indonesia sudah terkena imbas krisis ekonomi global yang terlihat dari perlambatan ekonomi di kuartal IV-2008.
Pulau Jawa Masih Berperan Utama
Pulau Jawa tercatat masih memegang porsi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di kuartal IV-2008 yang sebesar 5,2%, dimana pulau Jawa memberikan kontribusi 57,9%.
"Kedua Pulau Sumatera sebesar 23,4%, lalu Kalimantan 10%, Sulawesi 4,5% dan pulau lainnya 4,2%. Memang dalam 5 tahun ini porsinya selalu seperti itu," tuturnya
Rusman menambahkan, sumbangan pengeluaran konsumsi pemerintah pada pertumbuhan PDB di 2008 hanya 8,4%, dalam PDB 2008 sumbangan terbesar adalah dari konsumsi rumah tangga yang sumbangannya 61%.
"Jadi magnitude dari spending pemerintah hanya 8,4% dari penciptaan PDB di 2008," ujarnya.
Ia mengatakan kalau pemerintah tetap menginginkan perekonomian kita tetap tumbuh di 2009, maka daya beli masyarakat harus dipelihara pertumbuhannya.
"Karena daya beli masyarakat merupakan yang terutama menyetir pertumbuhan ekonomi. Jadi daya beli ini pengaruhnya besar terhadap PDB," pungkasnya. (dnl/qom)











































