Hal tersebut dikatakan oleh Ketua Komite Tetap Perdagangan Dalam Negeri Kadin Indonesia Bambang Soesatyo kepada detikFinance, Selasa (17/2/2009).
"Kelesuan dunia usaha kita sebagaimana hasil identifikasi SKDU itu predictable. Bukan kejutan karena tak ada yang baru. Besaran undisbursed loan yang konstan di kisaran Rp 200-an triliun sepanjang 2008 menjadi bukti paling sahih tentang kelesuan sektor bisnis kita. Data undisbursed loan itu lebih riil menggambarkan keadaan dibanding hasil SKDU BI terbaru," tuturnya.
Dikatakan Bambang, hasil survei kegiatan dunia usaha (SKDU) Bank Indonesia untuk triwulan IV-2008 menunjukkan penurunan kegiatan dunia usaha tercermin dari saldo bersih tertimbang sebesar -1,56% akibat krisis.
"Dalam periode krisis sekarang, kelesuan sektor bisnis kita berlanjut. Kecenderungannya cukup dibaca dari gelombang PHK, penurunan kapasitas produksi sektor industri, turunnya volume ekspor, anjloknya konsumsi masyarakat, hingga rendahnya persentase penggunaan kios atau ruang usaha (space room) di banyak bangunan pusat belanja (mall). Semua ini, sekali lagi, lebih nyata untuk menjelaskan proses rusaknya perekonomian masyarakat," katanya.
Di tengah kondisi ini, Bambang mengatakan pemerintah dan para pelaku usaha harus mengembangkan perekonomian dalam negeri dengan fokus menggarap potensi pasar dalam negeri dengan lebih dari 200 juta konsumen.
"Ekspor tetap diupayakan, tetapi jangan dipaksakan karena permintaan di pasar global belum pulih," imbuhnya.
Agar daya serap pasar dalam negeri menguat, pemerintah harus meningkatkan daya beli rakyat dan berusaha lebih keras mengontrol (menurunkan) harga aneka barang. Pemerintah mencobanya dengan rencana menaikkan gaji PNS dan TNI/Polri serta menurunkan tarif PPh.
"Upaya menaikkan daya beli ini akan lebih efektif jika harga bensin Premium diturunkan lagi ke level Rp 3.900 per liter. Dengan langkah tambahan ini, warga non-PNS pun akan terangkat daya belinya," ujarnya.
Dengan meningkatnya konsumsi dalam negeri (masyarakat dan pemerintah), gairah sektor bisnis kita akan terpacu. Dan, jika konsisten dengan upaya itu, hasil SKDU berikutnya pasti akan berbicara lain.
(dnl/lih)











































