Keberhasilan komulatif produksi itu diperingati PT Chveron di Minas, Kabupaten Siak, Riau, Selasa (17/02/2009). Hadir dalam acara itu Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, Gubernur Riau Rusli Zainal dan Kepala BP Migas R Priyono.
"Mencapai angka 11 miliar barel merupakan pencapaian yang luar biasa bagi produksi minyak di Indonesia, dan sekaligus merupakan pencapaian penting dalam memperingati 85 tahun operasi kami di Indonesia. Pencapaian ini juga merupakan yang pertama diseluruh dunia bagi operasi Chevron," kata Managing Direktor IndoAsia Business Unit Chevron, Steve Green.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lapangan di Sumatera telah berproduksi selama 50 tahun dan kami berkomitmen untuk memperpanjang usia produksi lapangan-lapangan tersebut di masa depan dengan menggunakan teknologi baru dan muthahir guna meningkatkan produksi," kata Steve Green.
Ditemui terpisah, Direktur Sosio Audit Indonesia, Zakirman mengatakan bahwa kehadiran Chevron di Riau selama 50 tahun itu dinilai tidak membawa dampak peningkatan ekonimi rakyat. Menurutnya, sejak 50 tahun lalu Riau masuk dalam daftar provinsi termiskin di Indonesia.
Ia menegaskan, kehadiran Chevron sama sekali tidak mendongkrak perekonomian rakyat. Sampai saat ini, dimana terdapat wilayah operasi Chevron di sanalah kantong-kantong kemiskinan berada.
"Kalau kehadirannya membawa dampak perekonomian bagi rakyat tenpatan, tentulah sejak dulu rakyat di Riau sudah makmur. Buktinya sampai sekarang angka kemiskinan dalam kurun waktu dua tahun terakhir mencapai 20 persen," kritik Zakirman.
Perekonomian Riau mulai bangkit di era tahun 80-an ketika sejumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit nasional membuka usahanya di Riau. Disaat itulah denyut perekonomian mulai bangkit seiring hadirnya sejumlah perusahaan kelapa sawit.
"Boleh kita saksi sekarang, dimana ada perusahaan perkebunan sawit, rakyat di sekitarnya turut terdongkrak perekonomiannya. Tapi dimana ladang minyak, di sanalah pula kantong kemiskinan," kata Zakirman.
(cha/qom)










































