Demikian hal itu diungkapkan oleh Direktur Utama PT PAL Harsusanto di Kantor Kementerian BUMN, Gedung Garuda, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (17/2/2009) malam.
"Sebelum dia (PPA) bisa menyelamatkan PT PAL, dia mesti mengikuti beberapa peraturan yang sudah ditetapkan dalam PP. Ini dalam rangka tertib administrasi jadi mesti ada satu-dua dokumen yang dipersiapkan. Tapi ada time frame, sebelum akhir bulan ini sudah jalan penyelamatannya," katanya.
Total dana yang disiapkan PPA tersebut jumlahnya lebih kecil dari rencana awal yang sebesar US$ 60 juta. Menurutnya, angka tersebut berubah setelah perseroan dapat menarik pembayaran kapal di muka pada saat kontrak.
Biasanya, perusahaan plat merah itu selalu mendapat pembayaran di akhir, atau setelah pesanan kapal kliennya diserahkan. Sehingga otomatis kebutuhan dananya bisa berkurang.
"Ada sekitar 8 kapal yang bisa diatur bayar di depan. Nilainya sekitar US$ 8-10 juta. Kita sudah negosiasi ketat dengan mereka, sampai akhirnya mereka mau bayar di muka," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan, selain bantuan dana dari PPA, perseroan bersama PPA juga akan mengkaji kemungkinan untuk mencari pinjaman perbankan.
"Saya kira ini modal yang bagus, dan bank BUMN kan lebih dari satu jadi semua berdiskusi bagaimana menyelematkan PAL dengan kaidah-kaidah yang professional," ujarnya.
Suntikan dana tersebut akan digunakan BUMN perkapalan tersebut untuk melakukan costum clearance, modal kerja di bisnis kapal dan non kapal seperti perbaikan dan perawatan. Sekitar 60-65 persen dari suntikan dana itu dipakai untuk modal kerja, sedangkan sisanya untuk custom clearance dan kewajiban lain. (ang/lih)










































