Demikian hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Sofyan Djalil di sela-sela pembukaan Pameran Gelar Karya PKBL BUMN 2009 di Balai Sidang Jakarta Convention Center, Jakarta, Rabu (18/2/2009).
"Perjanjian itu sudah terlanjur diteken, kita sudah terjebak. Kita harus selesaikan masalah itu," katanya.
Ia mengatakan, negosiasi lanjutan yang saat ini sedang dilakukan antara Merpati dan Xian masih berjalan. Dalam negosiasi tersebut, pemerintah tidak ikut campur karena diserahkan langsung sebagai negosiasi bisnis antara kedua perusahaan tersebut.
"Sekarang mereka lagi nego, sudah 2 hari tapi belum ada laporan. Sekarang pembicaraan langsung b to b antara Merpati dan Xian," jelasnya.
Menurutnya, dalam negosiasi yang dimulai Senin lalu, Merpati ingin ada penyelesaian teknis, seperti harga, jumlah dan garansi pesawat. "Tapi tidak akan saya disclose dulu," katanya.
Sebelumnya, Merpati telah menandatangani perjanjian untuk 15 pesawat buatan Cina. Dua pesawat jenis MA 60 dari Cina sebelumnya telah didatangkan untuk melayani rute-rute Indonesia Timur dengan cara sewa.
Namun sebelum selesai pembayaran, pihak Xian mengajukan gugatan sebesar Rp 1 triliun kepada Merpati. (ang/lih)










































