Demikian disampaikan oleh Presiden Direktur Indomobil Group Gunadi Sindhuwinata usai acara rapat kerja Departemen Perindustrian di Jakarta, Rabu (18/2/2009).
"FTA itu bagaimana mengembangkan suatu keseimbangan, karana akan ada pembukaan pasar, kalau tidak selevel dengan kita maka itu bahaya. Apalagi soal produktifitas dan masalah efisiensi," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Misalnya, walaupun Indonesia sudah mampu menghasilkan biaya produksi yang sama di tingkat pabrik belum tentu akan bisa bersaing dengan kompetitif jika biaya diluar produksi pabrik seperti distribusi dan infrastruktur mengalami pembengkakan.
"Kalau dengan Australia produknya beda, dari sisi start-nya saja kita kalah, mereka sudah ada infrastruktur, kita tidak bisa bersaing khusus dengan otomotif," ucapnya.
Sehingga kata dia yang paling mungkin adalah melakukan FTA dengan negara-negara yang sejajar dari kekuatan ekonomi. Selama ini negara tujuan ekspor produk otomotif Indonesia banyak ditujukan ke negara-negara berkembang.
(hen/qom)











































