RI Defisit Pupuk di 2009

RI Defisit Pupuk di 2009

- detikFinance
Kamis, 19 Feb 2009 15:52 WIB
RI Defisit Pupuk di 2009
Jakarta - Indonesia akan mengalami defisit pupuk tahun ini. Untuk pupuk urea akan defisit pupuk sekitar 701.868 ton, pupuk ZA defisit 1.099.552 ton, SP 36 (Superphos) 3.099.924 ton dan NPK defisit 2.103.383 ton.

Hal ini disampaikan Deputi Bidang Usaha Agro Industri kehutanan, Kertas, Percetaan dan penerbitan Kementerian BUMN Agus Pakpahan dalam Rapat dengar pendapat dengan komisi VII DPR, di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (19/2/2009).

"Urea kalau kita hitung setelah kita dapat carry over tahun 2008, maka untuk urea defisit 701 ribu ton tahun ini. Untuk ZA defisit lebih dari 1 juta ton. Begitupun dengan Superfosfat dan NPK juga defisit," ujar Agus.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan jawaban tertulis yang dikutip detikFinance, untuk suplai pupuk urea  tahun ini sekitar 7.301.132 ton sedangkan permintaannya sekitar 8.003.000 ton sehingga terjadi  defisit 701.868.

Untuk pupuk ZA,  tahun ini stoknya mencapai 1.050.448 ton sedangkan permintaannya sekitar 2.150.000 ton atau berarti terjadi kekurangan stok sekitar 1.099.552 ton.

Pupuk SP-36 (Superphos) terjadi defisit sekitar 3.099.924 ton, karena dari kebutuhan pupuk SP-36 secara nasional sekitar 4.010.000 ton, sementara suplai hanya sekitar 910.076 ton.

Sedangkan untuk NPK, suplai yang ada yaitu sekitar 1.546.617 ton dan tidak dapat menutupi kebutuhan nasional sekitar 3.650.000 ton sehingga terjadi defisit 2.103.383 ton
 
Untuk mengantisipasi rendahnya kemampuan produksi pupuk dibandingkan kebutuhan, agus menyatakan pihaknya akan melakukan berbagai langkah antisipatif.

"Antisipasi kami dengan mengadakan swap gas Kaltim ke aceh untuk memenuhi kebutuhan gas sebagai bahan baku produksi pupuk sehingga produksi pupuk dapat lebih optimal," katanya.

Antisipasi lain, imbuh agus, meningkatkan efisiensi dan produksivitas pabrik-pabrik pupuk. Mengingat semakin tingginya harga gas, semakin tinggi pula harga pokok penjualan (HPP) pupuk sehingga jumlah kebutuhan subsidi semakin meningkat dengan HET yang relatif tetap.

Agus menegaskan pemerintahpun akan melakukan antisipasi jangka panjang yaitu dengan melakukan revitalisasi pabrik urea untuk menambah kapasitas produksi urea.

"Revitalisasi dilakukan dengam membangun enam pabrik pupuk urea yaitu lima pabrik pengganti dan satu pabrik baru sehingga kapasitas produksi urea bisa bertambah dari 8,05 juta ton menjadi 10,98 juta ton per tahun," paparnya.

Agus menambahkan pihaknya pun juga akan membangun lima pabrik NPK yang baru sehingga kapasitas profuksi NPK bertambah dari 2,04 juta ton menjadi 3,04 juta ton.

"Langkah lainnya yaitu melakukan pengembangan pupuk organik. Melakukan kerjasama dengan Jordan Phospate Mines Co. ltd (Yordania) dan pihak lainnya dalam rangka pembangunan pabrik asam phospat dan asam sulfat di indonesia," jelasnya.




(epi/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads