Penjualan sebesar Rp 19 triliun tersebut lebih tinggi 7% dari target RKAP 2008. Jika ditambah dengan penjualan lain baik berupa jasa dan produk lain, maka total penjualan 2008 mencapai Rp 20,7 triliun.
Hal ini dikemukakan oleh Komisaris utama KS Taufiqurrahman Ruki disela-sela keterangan pers di Kantor BUMN, Jakarta, Kamis (19/2/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Risiko usaha juga meningkat akibat tingginya suku bunga, melemahnya pasar modal dan nilai tukar rupiah kepada dolar AS dan tingginya angka inflasi," ujarnya.
Ia juga mengatakan, target pertumbuhan ekonomi yang sebesar 4,5% diperkirakan akan mempengaruhi pertumbuhan sektor-sektor konstruksi prasarana dan manufaktur. Padahal sektor-sektor tersebut memberikan kontribusi yang besar dalam pertumbuhan industri baja selama ini.
Ia menambahkan, stok produk baja di produsen luar negeri juga meningkat akibat pembatalan transaksi dari negara importir yang terkena dampak krisis. Hal ini tentunya dapat membuat Indonesia menjadi sasaran impor ilegal dan menyebabkan harga baja di pasar domestik makin terpuruk. Karena permintaan yang menurun, utilisasi pabrik KS pun tidak akan optimal.
"Utilisasi kapasitas produksi KS pada kuartal pertama dan kedua 2009 belum dapat optimal karena kondisi permintaan pasar akan produk baja diperkirakan masih akan rendah," katanya.
Penjualan KS pada 2009 akan diutamakan pada penjualan produk jenis-jenis baja yang diperlukan proyek-proyek infrastruktur pemerintah dan swasta. Hal ini mencakup kebutuhan pabrikan yang memproduksi kebutuhan masyarakat umum. Contohnya adalah paku, kawat, seng, besi beton, serta memenuhi pesanan jenis baja kualitas tertentu seperti tabung gas dan kebutuhan industri pertahanan,.
Kinerja 2008
KS membukukan laba bersih sebanyak Rp 462,5 miliar pada 2008. Hal ini berarti 6% lebih tinggi dari RKAP 2008 dan tumbuh 47% lebih tinggi dari laba bersih 2007.
Ia mengatakan, produksi baja kasar khususnya slab dan dillet tahun 2008 sebanyak 1,6 juta ton atau hanya 92% dari RKAP 2008.
Pada tahun ini pajak yang dibayar secara langsung oleh KS ke negara adalah Rp 295,7 miliar. Angka ini lebih besar 82% dari pajak 2007.
Pada 2008, harga jual sejak triwulan pertama sampai ketiga terus menguat. Hal ini dipengaruhi kenaikan harga minyak dunia pada awal 2008 sehingga mengakibatkan naiknya harga jual pellet, pig iron, scaep serta semi finished product seperti sponge, slep dan dillet. Namun kenaikan harga jual ini diikuti meningkatnya harga beli bahan baku utama baja.
"Sementara pada triwulan keempat 2008 harga-harga turun tajam dan drastis karena turunnya harga minyak dan krisis keuangan global yang membbuat turunnya permintaan akan baja dan lemahnya daya beli konsumen," jelasnya. (lih/qom)











































