Demikian hal itu dikemukakan oleh Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Sofyan Djalil di kantornya, Geudng Garuda, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (20/2/2009).
"Garuda sudah dapat komitmen dari lembaga leasing Timur Tengah, nanti signing-nya di acara World Islamic Economic Forum (WIEF)," katanya.
Ia mengatakan, penyewaan pesawat tersebut dilakukan setelah melihat maskapai penerbangan asing, seperti Singapura dan Malaysia selama ini juga melakukan hal itu.
"Cara ini lebih fleksibel karena setelah sekian tahun kita butuh pesawat baru, nanti bisa lease-back," ungkapnya.
Untuk mengantisipasi pembayaran di masa krisis seperti ini, menurutnya Garuda sudah memundurkan jadwal kirim beberapa pesawat baru tersebut. Hingga saat ini, baru ada dua pesawat yang sudah dikirim dan siap beroperasi.
Ia menambahkan, untuk lebih meningkatkan sinergi antara BUMN penerbangan, Kementerian Negara BUMN sudah memanggil Garuda beserta PT Merpati Nusantara dan PT Pelita untuk bisa memetakan tugas dan kepentingannya bersama.
"Selama ini kan mereka saling bersaing, jika bersinergi maka banyak hal yang bisa dikerjaan bersama. Seperti dalam hal IT (information and technology) dan segala hal lainnya.
Sampai saat ini, ketiga perusahaan plat merah tersebut baru akan bersinergi di pemetaan kepentingan belum sampai ke pembentukan holding BUMN penerbangan.
"Holding tidak sekarang lah, biarkan mereka bersinergi dulu," ungkapnya.
(ang/qom)











































