Pengusaha Keramik Sayangkan Sikap Kaku Perbankan

Pengusaha Keramik Sayangkan Sikap Kaku Perbankan

- detikFinance
Jumat, 20 Feb 2009 17:02 WIB
Pengusaha Keramik Sayangkan Sikap Kaku Perbankan
Jakarta - Pelaku industri keramik yang tergabung dalam Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) menyayangkan perilaku perbankan yang kurang perhatian terhadap sektor ini.

"Perbankan masih memilih-milih dalam pemberian kreditnya. Kenapa lembaga perbankan tidak melihat sektor komoditas seperti ini yang punya market sendiri. Kita menghasilkan Rp 15 triliun sendiri untuk negara, tetapi kenapa perbankan tidak melihat industri ini, itulah yang membuat kita kecewa," kata Ketua umum Asaksi Achmad Wijaya disela-sela acara seminar di Gran Melia, Kuningan, Jakarta, Jumat (20/2/2009).

Achmad mengatakan proses lembaga perbankan di Indonesia sangat kaku dalam hal menunjang sektor riil.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita mengharapkan pemerintah untuk melanjutkan proporsi yang saat ini masih baik agar tidak turun, perbankan juga harus ikut berpartisipasi agar memberikan pinjaman," katanya.

Pinjaman tersebut menurutnya diperlukan agar pelaku industri keramik dapat mengembangkan tempat usahanya. Dia juga optimistis ekonomi akan segera pulih setelah paket stimulus di seluruh negara berjalan.

"Kita mempunyai pegangan bahwa ekspor akan kembail. Kenapa ekspor akan kembali? Karena stimulus yang dijanjikan diseluruh dunia itu kalau mengucurnya sama-sama maka ekonomi pun akan bergerak," katanya.

Achmad menjelaskan, industri keramik sebagai industri komoditas, dan sampai hari ini 80 persen industri masih jalan terus.

"Tidak turun, walaupun ekspor disaat sekarang masih banyak hambatan, tetapi di tiga benua Australia, Amerika dan Inggris tidak ekspor, namun kita punya pasar yang disebut emerging market atau secondary ASEAN contoh Myanmar, Kamboja, Srilanka, dan pasar sendiri yang masih dikembangkan," katanya.

Menurut Achmad, porsi domestik masih baik karena ada 2 titik yang disebut market renovasi, dan untuk pasar proyek. Ada daerah dimana pengembangan rumah susun sederhana yang memakan volume keramik lebih banyak dibanding mall, kantor dan hotel.

"Namun yang sampai detik ini tidak membantu kita adalah lembaga perbankan dan masih memilih-milih, tidak menurunkan suku bunga dan sedikit pinjaman baru, makanya secara makro dan mikro tidak berjalan," tukas Achmad.



(ir/qom)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads