"Perbankan masih memilih-milih dalam pemberian kreditnya. Kenapa lembaga perbankan tidak melihat sektor komoditas seperti ini yang punya market sendiri. Kita menghasilkan Rp 15 triliun sendiri untuk negara, tetapi kenapa perbankan tidak melihat industri ini, itulah yang membuat kita kecewa," kata Ketua umum Asaksi Achmad Wijaya disela-sela acara seminar di Gran Melia, Kuningan, Jakarta, Jumat (20/2/2009).
Achmad mengatakan proses lembaga perbankan di Indonesia sangat kaku dalam hal menunjang sektor riil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pinjaman tersebut menurutnya diperlukan agar pelaku industri keramik dapat mengembangkan tempat usahanya. Dia juga optimistis ekonomi akan segera pulih setelah paket stimulus di seluruh negara berjalan.
"Kita mempunyai pegangan bahwa ekspor akan kembail. Kenapa ekspor akan kembali? Karena stimulus yang dijanjikan diseluruh dunia itu kalau mengucurnya sama-sama maka ekonomi pun akan bergerak," katanya.
Achmad menjelaskan, industri keramik sebagai industri komoditas, dan sampai hari ini 80 persen industri masih jalan terus.
"Tidak turun, walaupun ekspor disaat sekarang masih banyak hambatan, tetapi di tiga benua Australia, Amerika dan Inggris tidak ekspor, namun kita punya pasar yang disebut emerging market atau secondary ASEAN contoh Myanmar, Kamboja, Srilanka, dan pasar sendiri yang masih dikembangkan," katanya.
Menurut Achmad, porsi domestik masih baik karena ada 2 titik yang disebut market renovasi, dan untuk pasar proyek. Ada daerah dimana pengembangan rumah susun sederhana yang memakan volume keramik lebih banyak dibanding mall, kantor dan hotel.
"Namun yang sampai detik ini tidak membantu kita adalah lembaga perbankan dan masih memilih-milih, tidak menurunkan suku bunga dan sedikit pinjaman baru, makanya secara makro dan mikro tidak berjalan," tukas Achmad.
(ir/qom)










































