Hal ini disampaikan Kepala BP Migas Priyono ketika dihubungi detikFinance, Minggu (22/2/2009).
Menurut Priyono, berdasarkan temuan ICW sebelumnya mengenai lifting minyak mentah, data yang digunakan terbilang tidak akurat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu ia juga menyayangkan sikap ICW yang tidak mengkonfirmasi temuan tersebut ke BP Migas terlebih dulu, namun langsung dipublikasikan.
"Mereka tidak belajar dari hal tesebut (temuan sebelumnya), artinya tidak pernah bertanya dulu ke BP Migas hal validitas datanya," katanya.
ICW sendiri mengaku mengambil data-data temuannya dari laporan keuangan pemerintah pusat (LKPP) selama periode tahun 2000-2008. Dimana total penerimaan negara dari gas adalah Rp 440,447 triliun.
Sedangkan menurut perhitungan ICW berdasarkan jumlah lifting gas per tahun seharusnya total penerimaan negara dari gas sepanjang tahun 2000-2008 adalah Rp 515,045 triliun.
"Angka ini bukan lahir dari asumsi, ini angka yang sudah terjadi. Bukan mengutip dari data seminar atau kutipan media. Data ini bisa meleset tapi tipis karena kami dengan menggunakan data yang resmi," ungkap Koordinator Divisi Pusat Data dan Analisis ICW, Firdaus Ilyas.
(lih/lih)











































