Demikian disampaikan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro di sela-sela rapat kerja dengan Komisi VII DPR di gedung DPR-RI, Jakarta, Senin (23/2/2009).
"Anomali itu sudah hilang, demand lebih tinggi dari supply sehingga harga mulai merangkak naik di pasar produk," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mungkin pada saat stok premium berlebihan , kilang tidak memproduksinya lagi. Tapi lama-lama kan habis juga, sehingga harga kini mulai naik lagi," katanya.
Selain di pasar produk (BBM), kenaikan harga juga terlihat di pasar minya. Saat ini, anomali juga terjadi di pasar minyak dimana harga minyak jenis brent cenderung lebih tinggi ketimbang light sweet. Padahal sebelumnya harga brent lebih rendah dari light sweet.
"Kami lihat kecenderungan harga waktu 15 Februari, harga brent naik. Itu yang menarik harga ICP naik," katanya.
Kewaspadaan terhadap kenaikan harga BBM makin meruncing dengan kondisi rupiah yang masih belum stabil.
"Lagian rupiah sekarang genit. Ini beri efek ke kenaikan harga BBM, jadi mesti diwaspadai," katanya.
Ia juga menegaskan, sekalipun pemerintah mengantongi surplus pada penjualan premium Desember dan Januari, bukan berarti hal serupa tetap terjadi pada 10 bulan ke depan.
"Perhitungan subsidi untuk 1 tahun. Kalau sekarang surplus, 10 bulan ke depan belum tentu terjadi surplus, malah kecendurungan defisit," katanya.
Faktor lainnya yang memicu kenaikan harga minyak adalah rencana OPEC kembali memangkas produksi minyak anggotanya pada pertemuan 15 Maret 2009.
"Itu justru salah satu pertimbangan kita, OPEC tidak akan rela harga rendah, OPEC akan dorong supaya harga minyak tinggi. Mungkin ada kecenderungan harga naik, tapi tidak senaik dulu," katanya.
Meski begitu, niatan OPEC menaikkan harga minyak kembali tidak lagi efektif sekarang. Karena OPEC hanya menguasai 35% produksi dunia, OPEC harus menggandeng negara non OPEC lainnya.
(lih/qom)











































